Senin, 18 April 2022

MENGENAL MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT)

 

1. Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif  adalah Number Head Together (NHT). Teknik Belajar  atau model pembelajaran Number head together (NHT) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Model  ini  dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan peserta didik. 

Menurut Muslimin (2000) mengemukakan bahwa: “Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)  adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tetapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor yang sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja dalam kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward”.

Menurut  Kagan  (2007)  Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ini  secara tidak langsung  melatih  siswa  untuk  saling  berbagi  informasi, mendengarkan  dengan  cermat  serta  berbicara  dengan  penuh  perhitungan, sehingga  siswa  lebih  produktif  dalam  pembelajaran. 

Menurut  Anita  Lie  (2007) Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah suatu tipe dari pembelajaran kooperatif pendekatan structural yang memberikan  kesempatan  kepada  siswa  untuk  saling  membagikan  ide-ide dan  mempertimbangkan  jawaban yang  paling  tepat.

Pengertian Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) menurut Trianto (2007) merupakan jenis pembelajaran kooperatif  yang  dirancang  untuk  mempengaruhi  pola  interaksi  siswa  dan sebagai  alternatif  terhadap  struktur  kelas  tradisional.

Sedangkan menurut Ahmad  Zuhdi (2010) Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah  suatu  model  pembelajaran kooperatif  dimana  siswa  diberi  nomor  kemudian  dibuat  suatu  kelompok, lalu secara acak guru memanggil nomor dari siswa.

 

 

 

 

2. Langkah-langkah kegiatan dalam  NHT :

Secara umum menurut Indrawati (2007) Langkah-langkah kegiatan dalam  Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah sebagai berikut:

a.  Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.

b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

c.  Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.

d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.

d. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

e.  Kesimpulan. 

Jadi dalam penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT),  siswa dibagi  menjadi beberapa kelompok dan setiap anggota kelompok diberi nomor kepala. Selanjutnya di setiap kelompok dilakukan diskusi untuk menjawab permasalahan atau untuk melakukan suatu kegiatan.  Dari hasil kegiatan tersebut guru mengundi nama kelompok dan nomor anggota kelompok yang harus menjawab pertanyaan atau mempresentasikan kegiatan.  Berkaitan dengan hal ini, maka setiap anggota kelompok dituntut untuk bekerja sama karena jawaban atau presentasi dari perwakilan anggota kelompok akan menjadi generalisasi kemampuan atau nilai kelompok.

Menurut Anita Lie (2002) prosedur Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah saat pemanggilan siswa untuk menjawab atau melakukan sesuatu yang dIpanggil adalah nomor kepala dari salah satu kelompok secara acak. Hal ini akan menyebabkan semua siswa harus siap. Dan penghargaan diberikan jika jawaban benar untuk nilai kelompok. Teknik ini memberikan kesempatan kepada semua siswa dalam kelompok untuk saling memberikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat,  mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.

Menurut Bobbi De Porter (2001) siswa akan belajar paling baik  dalam lingkungan kerja sama.  Belajar yang menekankan pada kerja sama diantara sesama siswa dalam suatu komunikasi belajar dapat lebih menggairahkan.

Menurut Ibrahim (2000:28) Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memiliki unsur-unsur model belajar mengajar yaitu:

 

 

 

3. Sintaks

Adapun Sintak atau Langkah-langkah Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah sebagai berikut

1. Pendahuluan 

      Pada pendahuluan berisi tettang persiapan antara lain: 

a) Guru menjelaskan tentang pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). 

b) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran  

c) Guru melakukan apersepsi 

d) Guru memberikan motivasi pada siswa 

 

2. Kegiatan Inti 

           Kegiatan inti adalah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). 

Fase 1 : Penomoran  Penomoran  Guru membagi siswa dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang  dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5. 

Fase 2 : Mengajukan pertanyaan  Mengajukan pertanyaan : Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Dalam hal ini guru memberikan pertanyan berupa lembar kerja siswa (LKS menggunakan Mcromedia Flash).

Fase 3 : Berfikir bersama Berpikir bersama : Siswa berfikir bersama menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan yang berupa LKS dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

Fase 4 : Menjawab  Menjawab : Guru  memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan  di depan kelas. 

 

3. Penutup  Penutup merupakan tahap evaluasi. 

    a)  Dengan bimbingan guru siswa membuat kesimpulan. 

    b)  Siswa diberi PR dari buku paket atau buku panduan lain.

 

4. Sistem Sosial

Sistem sosial yang berlaku dalam model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Togerther (NHT) adalah: Siswa diberi pengarahan untuk berdiskusi bersama kelompoknya. Siswa bebas untuk mengemukakan pendapatnya, mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan.

 

5. Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi model pembelajran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah: Guru menjelaskan tentang cara pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru membagi siwa dalam bentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat sampai lima orang siswa  dan setiap kelompok mendapat nomor yang berbeda. Guru menyampaikan materi pembelajaran Guru memberikan pertanyaan yang berupa LKS. Guru memberikan pengarahan siswa untuk berdiskusi dalam kelompok guna menyelesaikan permasalahan. Guru menunjuk salah satu nomor siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan di depan kelas.

Ibrahim (2000) menguraikan struktur-struktur dalam Model Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan merincinya kedalam elemen-elemen sebagai berikut:

1. Pelaku (actors) misalnya individu, pasangan, kelompok, guru dan kelas.

2.  Tindakan (action) misalnya mengecek, merespon, menggambarkan, bergiliran, pujian dan  membaca dengan keras.

3. Penerima (recipien) misalnya anggota kelompok, guru dan kelas.

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) mempunyai kelebihan dan kekurangan pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan.  Menurut Ahmad Zuhdi (2010:65) kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) : 1)  Setiap  siswa menjadi  siap  semua,  2)  Dapat  melakukan  diskusi  dengan  sungguh-sungguh, 3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Sedangkan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) :  1)  Kemungkinan  nomor  yang  dipanggil,  dipanggil  lagi  oleh guru. 2) Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

 

Common Sense Dalam Epistemologi George Edward Moore :: Sumbangannya bagi filsafat ilmu

 

Kelahiran filsafat Moore dilatarbelakangi oleh pemikiran filsafat Idealisme Bradley ¾Filsafat Bradley yang Hegelianistik¾ dan pemikiran Immaterialisme Berkeley. Moore berusaha untuk mengembalikan tradisi pemikiran Realisme Inggris yang telah mengakar jauh sebelum Bradley. Filsafat Moore bertumpu pada Common Sense. Bahan penelitian adalah seluruh filsafat Inggris yang berbicara tentang Common Sense, baik yang mempengaruhi filsafat Moore maupun yang dipengaruhinya. Tujuan penelitian adalah memerikan fungsi Common Sense di dalam filsafat Moore. Permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah (1) apakah makna Common Sense, (2) bagaimana realisasi epistemologi Common Sense, dan (3) bagaimana sumbangan epistemologi Common Sense dalam pengembangan filsafat ilmu. Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan beberapa metode. (1) Metode Historis Faktual, metode ini digunakan untuk menelusuri alur pikir perkembangan makna Common Sense dalam filsafat Inggris. (2) Metode analisis-sintesis, metode ini digunakan untuk menemukan makna spesifik term Common Sense. (3) Metode Hermeneutik. metode ini digunakan agar proses memperantarai dan menyampaikan pesan yang termuat dalam realitas (objek) agar dapat dipahami secara jelas. Hasil penelitian adalah (1) secara historis konsep Common Sense telah digunakan oleh filsuf sebelum Moore. Para filsuf menggunakan Istilah Common Sense dengan term dan makna yang lain pula. (2) Secara analitis-sintetis, makna Common Sense menunjukkan perbedaan yang berarti antara satu filsuf dengan filsuf yang lain. Sebab mereka mengunakan pendekatan pemahaman yang berbeda. (3) Secara Hermeneutik, makna Common Sense dalam filsafat Moore adalah suatu kemampuan terpadu antara aktivitas indera dan aktivitas kesadaran yang menghasilkan suatu keyakinan untuk memahami objek secara langsung. Common Sense merupakan satu kemampuan yang berupa keyakinan universal menghasilkan pengetahuan yang pasti tentang objek benda material. Objek dalam realitas berupa benda fisik. Epistemologi Common Sense adalah epistemologi spesifik Moore yang memisahkan peran subjek dan objek secara tegas. Subjek memperhatikan objek faktual melalui penginderaan secara langsung sehingga diperoleh data indera. Pemahaman secara langsung terhadap data-indera melibatkan aktivitas kesadaran. Hasil kegiatan itu berupa pengetahuan yang benar bahkan pasti benar. Di dalam sumbangan epistemologi Common Sense Moore bagi filsafat ilmu adalah data-indera tentang objek benda material fisik berguna sebagai pangkal tolak pembentukan suatu pengetahuan ilmiah, bahkan pengetahuan Common Sense melekat pada setiap tahap pemikiran ilmiah.

The birth of Moore's philosophy has a background in Bradley's Idealism ¾The philosophy of Bradley is rooted in Hegelianistic philosophy¾ and in Berkeley's immaterialism. Moore tried to revive English Realism tradition, long before Bradley thoughts emerged. Moore developed his philosophy based on Common Sense. The materials of this research are all drawn from English philosophy that deals with Common Sense, both influencing and influenced by Moore's philosophy. The objective of this research is to describe the function of Common Sense in Moore's philosophy. The aims of this research are (1) to determine the meaning of Common Sense, (2) to determine the realization of epistemology of Common Sense, and (3) to identify the contribution of epistemological Common Sense in the development of philosophy particularly philosophy science. This research uses three methods. (1) Factual-Historical method, which is used to retrace the stream of development of the meaning of Common Sense in English philosophy. (2) Synthetico-Analitic method, which is used to find out the specific meaning of the term Common Sense. (3) Hermeneutics. which is used to mediate the message drawn from realities (objects). The results of this research are (1) historically, the conception of Common Sense used by many philoso-phers, despite differences of terminology and meaning according to them, (2) Syntheticanalitically, the meaning of Common Sense depends on the approaches of the respective philosophers. (3) Hermeneutically, the meaning of Common Sense in Moore philosophy is to be understood as a unified ability of sense activities and consciuosness to grasp and understand material objects. Common Sense denotes to human capacity, that is a universal belief that produces certainty of knowledge of material things. Common Sense epistemology is specifically Moore's epistemology. It separates the subjects from objects distinctively. A subject sees factual objects in direct experience, so that he gets sense-data. To apprehend sense-data directly involves conscious activity. The result of that activity is the true and necessary knowldege. The contribution of Moore's Common Sense epistemology to the philosophy of science that sense-data of material objects are indispensable as a point for developing scientific knowledge. Therefore, Common Sense knowledge is implanted in every stage of scientific thought

Minggu, 26 Desember 2021

Tak Kenal Hari Libur, Demi Pendidikan, Cabang PGRI Wanasalam Selenggarakan Koncab IV Masa Bakti 2021-2026

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 

 

Hari ini Minggu, 26 Desember 2021 Pemilihan pengurus baru Cabang PGRI Kecamatan Wanasalam IV Masa Bakti 2021-2026 melalui Konferensi Cabang telah  berjalan lancar san dilaksanakan dengan saksama yang bertempat di Aula SMPN 1 Wanasalam.

" Penyelenggaraan Koncab PGRI Wanasalam ini merupakan agenda 5 tahunan pergantian kepengurusan PGRI secara mutatis mutandis yang wajib dilaksanakan sesuai amanat AD/ART PGRI". Kata Hida Nurhidayat selaku Ketua pelaksana Koncab PGRI Wanasalam.

Pada sidang Pleno III terkait pemilihan F1, F2 dan F3 mekanisme yang disepakati adalah pemilihan secara aklamasi.

Hasilnya F1 sebagai Ketua di  pimpin oleh saudara Syahrosi, F2 sebagai Wakil Ketua oleh saudara Hikmat Tasyri dan F3 Sebagai posisi Sekretaris oleh Hida Nurhidayat.

Ketua Cabang PGRI Wanasalam demisoner, Usep Saepul Anwar saati ni telah menyerahkan estapeta kepemimpinan kepada Syahrosi.

" Alhamdulillah pada periode kali ini kompisisi kepengurusan diidominasi oleh yang muda-muda. Mudahan-mudahan dengan kepengurusan Cabang PGRI Wanasalam yang baru ini bisa membawa kemajuan pendidikan lebih signifikan khususnya di kecamatan Wanasalam." Ujar Usep Saepul Anwar.

Koncab PGRI Wanasalam dihadiri juga oleh Muspika Kecamatan Wanasalam dan beberapa perwakilan pengurus Kabupaten, termasuk Ketua PGRI Kabupaten Lebak, Maman Suryaman,  juga hadir dan memberikan sambutan.

pada akhir acara Sidang Pleno IV langsung dilaksanakan pelantikan terhadap pengurus baru Cabang PGRI Wanasalam oleh Ketua PGRI Kabupaten Lebak.

"Diharapkan pengurus baru Cabang  PGRI Wanasalam benar-benar punya kapabilitas yang bisa serius dalam mengurus organisasi dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam membantu warga guru." Ucap Maman Suryaman menegaskan dalam sambutannya.

Ketua Terpilih, Syahrosi mengharapkan adanya kerjasama seluruh jajaran pengurus untuk memajukan organisasi Profesi yang esensinya untuk kemajuan dunia pendidikan, khususnya di Kecamatan Wanasalam.

" Ibarat kendaraan, satu saja ban mobil bermasalah, maka mobil itu tidak akan bisa jalan, maka diperlukan sekali kerjasama semua pengurus agar roda organisasi bisa berjalan sesuai arah dan tujuan." Pungkas Sahrosi. (HN/78)

Rabu, 10 Juni 2020

Penyebab BOS tahap 2 Gel 2 Tahun 2020 Tidak Cair


Sebagian sekolah sudah menerima pencairan dana BOS tahap 2 Gelombang 2 tahun anggaran 2020. Sekolah yang sudah menerima BOS bisa melihat pada notifikasi status dana BOS di laman nya. Namun beberapa sekolah juga belum menerima pencairan BOS 2020. Beberapa penyebab keterlambatan Salur BOS tahap 2 Gel 2 dikarenakan ada nya perbedaan sebagai berikut :

1. Nama sekolah SDN 1 ...... nama pemegang rekening SD Negeri 1 .....
2. Nama Bank dan kode Bank tidak sesuai atau tidak diisi.
3. No NPWP kurang digit atau salah input.
4. Nomor rekening salah input atau kurang digit.


Langkah langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1.        Sekolah mengakses Link https://bos.kemdikbud.go.id/rekening/session
2.        Bagi yang Data rekening yang di update sekolah dengan data di bank ada yang tidak sama, maka ada notif *Rekening Berbeda dengan verifikasi bank, Klik Tombol Update* (di blok warna kuning).
3.        Jika sudah melakukan Update, maka ada notif : *rekning sudah sama dengan Verifikasi Bank* (DI blok warna Hijau)
Mudah-mudahan setelah dilaksanakanya proses ini oleh sekolah, secepatnya BOS tahap 2 gel 2 akan segera tersalurkan ke rekening sekolah masing-masing.
PENERIMA DANA
Pasal 4
(1) Dana BOS Reguler diberikan kepada Sekolah.
(2) Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
          a. mengisi dan melakukan pemutakhiran Dapodik sesuai dengan kondisi riil di Sekolah sampai dengan batas waktu yang ditetapkan setiap tahun;
          b. memiliki nomor pokok sekolah nasional yang terdata pada Dapodik;
          c. memiliki izin operasional yang berlaku bagi Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat yang terdata pada Dapodik;
          d. memiliki jumlah Peserta Didik paling sedikit 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir; dan
          e. bukan satuan pendidikan kerja sama.
(3) Persyaratan jumlah Peserta Didik paling sedikit 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dikecualikan bagi:
          a. Sekolah Terintegrasi, SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB;
          b. Sekolah yang berada pada wilayah tertinggal, terdepan, terluar atau daerah khusus sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
          c. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang berada pada wilayah dengan kondisi kepadatan penduduk yang rendah dan secara geografis tidak dapat digabungkan dengan Sekolah lain.
Pasal 5
(2) Penetapan Sekolah penerima dana BOS Reguler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan data pada Dapodik per tanggal 31 Agustus.
(3) Data pada Dapodik per tanggal 31 Agustus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan batas akhir pengambilan data oleh Kementerian yang digunakan untuk penetapan penyaluran dana BOS Reguler pada:
          a. penyaluran dana BOS Reguler tahap III tahun berjalan; dan
          b. penyaluran dana BOS Reguler tahap I dan tahap II tahun berikutnya

Sumber: 
https://www.ibadjournals.com/2020/06/penyebab-bos-tahap-2-gel-2-2020-todak.html