Maka kita pun perlu
khawatir, tidak lebih dari lembaran-lembaran
catatan yang dihembus angin dan luntur digilas air hujan ketika ‘empati’ keluar
dari hati menyuara pada langit mengajak penyeragaman pada sesama, bahkan waktu cenderung
memberi ruang terpisah pada setiap segmen empati kita. Memang sewajarnya kita
menekan tombol alarm dengan volum yang standar seperti musik-musik klasik yang diperdengarkan
di balik tembok villa pesisir pantai, seperti seorang muslim sedang melantunkan
ayat suci Al-Qur’an di malam bulan Ramadhan yang suaranya diberi cukup jarak
dari speaker. Satu hal, godaan, yang kerap membayangi tingkah kebenaran adalah
kesombongan. Dan kesombongan adalah konsumsi qualified bagi laknat Tuhan.
Met siang sahabat” PGRI
…!’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar