Oleh: Hida Nurhidayat, S.Pd
Ada
banyak asumsi terkait dengan siswa tinggal kelas dan putus sekolah diantaranya
dikarenakan siswa tersebut bodoh, malas, nakal dan lain-lain, bahkan ada yang menganggap
bahwa orang tuanya terlalu apatis dalam mendidik anak di lingkungan rumahnya.
Namun asumsi ini tidak bisa dijadikan kebenaran sebuah jawaban, karena tidak dilakukan
identifikasi dan kajian permasalahan kausalitas secara ilmiah.
Penulis disini mencoba menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah
dasar dengan kajian metode deskripsi dan keterhubungan empirisme.keterhubungan
empirisme ini relevansinya dengan pengalaman penulis sewaktu menjadi wali kelas
kelas VI (enam) lebih dari sepuluh tahun di sekolah dasar.
Berdasarakan pengalaman penulis,
kebanyakan siswa terutama siswa yang putus sekolah itu terjadi di usia siswa
kelas V (lima) dan kelas VI (enam). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggal
kelas dan putus sekolah di sekolah dasar diantaranya:
a. Lemahnya Motivasi Orangtua Siswa
Pembiaran orang tua terhadap anaknya
sama dengan tidak ada motivasi apapun terhadap tingkahlaku belajar anak baik
ketika di sekolah maupun di rumah. Hal ini tentu akan membuat si anak merasa
bebas dalam menentukan keputusan-keputusan subjektifnya. Si anak akan berpikir,
mau sekolah atau tidak, mau belajar atau tidak, ia memiiki pilihan yang bebas.
b.
Tingkat Kemiskinan dan Rendahnya Tingkat Pendidikan Orang Tua Siswa
Terutama di daerah-daerah tertinggal
seperti di tempat penulis bertugas, mayoritas mata pencaharian orang tua siswa
bertani, berternak dan menjadi buruh lepas. Orang tua yang bermata pencaharian
berternak biasanya sudah menyuruh anaknya yang di usia 9 tahun ke atas sudah bisa
membantu orang tuanya selepas pulang sekolah. Kalau orang tua siswa itu punya
peternakan kambing, jelas kambing itu harus dikeluarkan dari kandangnya untuk
diberi makan sekitar jam 11(sebelas) siang hari, sedangkan anaknya yang
kebetulan sekoah dasar jam pulang
sekolahnya sekitar jam 12 (dua belas). Di perkampungan, peternakan ayam,
kambing dan kerbau hampir semuanya liar, sehingga anak harus punya waktu untuk menggembala
hewan-hewan ternak tersebut. Terkadang ada juga orang tua siswa yang
marah-marah kepada pihak sekolah karena keluar sekolah terlalu siang, sedangkan
anaknya harus segera menggembala ternakannya.
Sedangkan orang tua yang bermata
pencaharian buruh lepas, biasanya mengharapkan anaknya yang seusia sekolah
dasar untuk mengasuh adiknya yang masih kecil-kecil di rumah. Akhirnya, karena
sering disuruh mengasuh adik-adik kecilnya si anak tersebut sering tidak masuk
sekolah.
Kondisi-kondisi di atas sudah barang
tentu berimplikasi pada anak tidak bisa belajar dengan baik, terutama pengembangan
belajar di rumah, sehingga anak tersebut ketinggalan dalam pelajarannya dan
tidak percaya diri, akhirnya karena nilai-nilainya di bawah grade yang telah ditetapkan di sekolah,
maka anak tersebut pada akhir tahun tidak naik kelas. Pengaruh ketidakpercayaan
diri itu juga sangat berpotensi bagi
anak untuk memutuskan putus sekolah.
c.
Lemahnya Hubungan Komunikasi Guru Dengan Orang Tua Siswa
Keberhasilan
pendidikan dan pengajaran ditentukan juga oleh ikatan hubungan yang kuat antara
pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat di dalamnya
adalah para orang tua siswa. Tidak dibangunnya komunikasi dan hubungan yang
erat antara pihak sekolah dengan orang tua siswa akhirnya tidak ada ruang dan
upaya-upaya pencarian pemecahan masalah anak-anak didik dan juga terkait
konsensus kemajuan sekolah.
Manakala
sering dibangunnya komunikasi dan hubungan yang baik khusunya antara pihak
sekolah dengan para orang tua siswa tentu pihak dari orang tua siswa tidak akan
merasa segan untuk konfirmasi sekaligus konsultasi dengan pihak sekolah
berkaitan dengan proses perkembangan kegiatan belajar anaknya. Maka disini
sangat penting sekali dilaksanakannya secara serius program kunjungan rumah dan
program rapat-rapat rutin dengan orang tua siswa.
d. Metode Pembelajaran Yang
Menjenuhkan
Cara
mengajar guru dengan gaya dan metode-metode klasik juga berimplikasi terhadap
menurunnya semangat belajar siswa di sekolah, apalagi guru saat mengajar hanya
memberikan buku pelajaran kepada siswa untuk didiktekan oleh ketua kelasnya,
kemudian ditinggalkan begitu saja. Setelah selesai mendiktekan buku pelajaran,
guru menerangkan sepintas dengan metode ceramah tentang pelajaran yang telah
ditulis siswa, kemudian diberikan latihan soal, akurasi jawaban, dan dilanjutkan
dengan istirahat atau pulang.
Jika
proses belajar mengajar seperti di atas dilakukan setiap hari, sudah dipastikan
akan sangat membuat jenuh siswa. Faktanya siswa akan bersorak-sorai saat
mendengar bunyi bel istirahat atau bel pulang. Hal yang wajar juga ketika
banyak siswa yang tidak bisa apa-apa dan diantaranya ada yang tinggal kelas di
akhir tahun, begitu juga siswa yang memutuskan untuk berhenti sekolah.
Padahal banyak sekali metode-metode
pembelajaran yang mampu membangkitkan motivasi prilaku belajar siswa, mumbuat
siswa senang belajar di kelas, membuat siswa kreatif, membuat nalar kognitif,
sikap afeksi dan psikomotornya bekerja optimal. Misalnya dengan mengetengahkan
metode, diskusi, kerja kelompok, demonstrasi, seminar, eksperimen, inquiry,
analisis lapangan, reseach
(penelitian), bermain peran, problem
solving. Selain metode pembelajaran perlu diketengahkan pula model
pembelajaran, seperti model pembelajaran webed,
integrated, connected dan juga model pembelajaran yang sangat menyenangkan
siswa yaitu model pembelajaran Contectual
Teaching and Learning (CTL).
Masih
banyak sebenarnya metode, strategi dan model pembelajaran modern lainnya yang
bisa dituangkan dalam KBM. Apabila metode dan model pembelajaran ini selalu di
tuangkan dalam Lesson Plan dan
diterapkan secara kapabel dan serius oleh para guru, dapat dipastikan anak-anak
didik kita akan merasa senang, penuh semangat dan betah belajar di sekolah.
e. Lemahnya Pelayanan Keadilan
Terhadap Siswa
Dalam
proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, ada banyak yang sering kali
tidak disadari dan terperhatikan oleh
para guru tentang pelayaanan secara adil kepada siswa. Artinya siswa di dalam
kelas yang beragam potensi itu tidak diidentifikasi secara mendalam, misalnya kemampuan
atau kecerdasan apa saja yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Guru
seringkali lebih dominan memperhatikan dan menomorsatukan kecerdasan siswa dari
sisi kemampuan matematik nya saja. Padahal potensi kecerdasan itu banyak
sekali. Jelas hal ini adanya ketimpangan perhatian dari guru, sehingga siswa
yang tidak berbakat dalam pelajaran matematika, tidak ada motivasi untuk
meningkatkan bakat lainnya yang dia miliki, namun bakat siswa tersebut tidak
teridentifikasi dengan baik oleh gurunya.
Bahkan DR.
Howard Gardner mengklasifikasi kecerdasan manusia itu menjadi 8 kecerdasan,
diataranya: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan
visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetis, kecerdasan
interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Jika
perhatian guru terhadap kecerdasan-kecerdasan itu didesiminasikan dan
diimplementasikan secara adil, komparatif dan akseptebel ke dalam konsep rencana pelaksanaan pembelajaran
KBM, tentulah akan menjadi motivasi yang tinggi terhadap siswa secara kolektif.
f.
Lingkungan Sekolah Dan Kelas Yang
Tidak Menyenangkan
Lingkungan sekolah yang tertata rapi
dan asri serta pengelolaan ruangan kelas yang dipenuhi dengan lukisan atau
gambar-gambar edukatif serta pajangan-pajangan hasil karya kreatifitas anak juga
fasilitas yang lengkap cenderung akan sangat membantu mengeksplorasi motivasi
rasa senang dan semangat anak didik dalam belajar secara permanen. Namun
pengelolan lingkungan sekolah dan ruangan kelas ini perlu ada perubahan-perubahan
secara periodik, agar anak didik selalu menemukan dan merasakan suasana-suasana
baru.
Sebaliknya jika tidak ada menejemen
penataan lingkungan sekolah serta ruangan kelas dengan baik, justru akan
membuat siswa belajar apa adanya, seakan-akan siswa hanya memenuhi tugas dari
orang tuanya, bahkan siswa lebih termotivasi untuk segera pulang ke rumah.
Kondisi seperti di atas juga sangat
berpengaruh terhadap cara belajar siswa, apalagi siswa yang kemampuannya di
bawah rata-rata, memungkinkan tidak akan mendapatkan nilai di atas standar
nilai kenaikan kelas, dan memungkinkan juga anak tersebut lebih memilih betah
tinggal di lingkungan sekitar rumah ketimbang di sekolah.
Dari
beberapa faktor kelemahan yang mempengaruhi tinggal kelas dan
putus sekolah di sekolah dasar maka diperlukan solusi dan penanggulangan yang
cemerlang dan konkrit. Disini penulis mencoba mendeskripsikan secara empiris
solusi dan penanggulangan yang dianggap epektif.
a. Menanamkan Pentingnya Pendidikan
Pihak sekolah terutama kepala sekolah
dan guru-guru menyediakan ruang silaturahmi dengan para orang tua siswa untuk sharing tentang pentingnya pendidikan
dan pembahasan mengenai hambatan-hambatan maju mundurnya pendidikan dan
pengajaran di sekolah. Dalam menyampaikan pentinya pendidikan ini kepala
sekolah atau guru mesti memiliki konsep yang jelas tentang pendidikan dan
proses belajar mengajar itu sendiri.
Konsep
yang disampaikan Misalnya penyampaian tentang konsep pendidikan menurut tokoh
pendidikan Ki Hajar Dewantara: “Pendidikan
adalah segala daya dan upaya untuk memberikan tuntunan pada segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar
mereka baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapatlahmencapai
keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir batin yang setinggi-tingginya.”
Artinya pada diri semua anak itu punya kelebihan dan potensi yang berbeda-beda
untuk dikembangkan sebagai bekal kehidupannya di masa depan, paling tidak bisa
bermaanfaat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat.
Sugesti-sugeti
positif juga perlu sekali disampaikan kepada orang tua siswa, sehingga para
orang tua siswa bisa berimajinasi dan memiliki harapan kuat tentang keberhasilan anak-anaknya, misalnya terkait
prestasi-prestasi lomba akademik dan non akademik yang telah diraih oleh
siswa-siswa dari sekolah setempat. Hal ini akan menjadi inspirasi orang tua
untuk memotivasi anaknya lebih intens lagi, dengan harapan anaknya bisa
terseleksi sebagai juara seperti yang disebutkan oleh pihak sekolah.
Perjalanan
para tokoh nasional dan orang-orang sukses yang latar kehidupan sebelumnya
dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan dan kondisi kemiskinan yang panjang,
perlu juga diceritakan kepada para orang tua siswa, sehingga empati para orang
tua bisa dituangkan dalam mendidik anak-anaknya khususnya di lingkungan rumah.
b. Menanamkan Peraturaan
Perundang-Undangan Tentang Wajib Belajar 9 Tahun
Dalam
rapat bersama orang tua perlu juga disampaikan tentang PP. No. 47 Tahun 2008
tentang wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, yaitu wajib belajar 6 tahun di
tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 3 tahun
di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Ketika orang tua tidak
menyekolahkan anaknya sampai usia SLTP, maka orang tua tersebut dinyatakan
tidak mendukung bahkan bisa dikatakan telah melanggar kebijakan peraturan
perundang-undangan yang telah ditetapkan.
Manakala
ada orang tua mempekerjakan anak seusia SD atau SLTP untuk mencarai nafkah
hidupnya atau menikahkan anaknya, jelas sangat bertentangan dengan
Undang-Undang Perlindungan Anak No 35 Tahun 2014. Dalam Undang-Undang
Perlindungan Anak banyak disebutkan tentang kewajiban dan tanggung jawab orang
tua terhadap anaknya, termasuk juga hak-hak yang wajib diperoleh anak.
Penyampaian
mengenai implementasi peraturan-peraturan perundang-undangan diatas akan sangat
berimplikasi positif terhadapa kesadaran para orang tua siswa untuk konsisten
menyekolahkan anaknya hingga lulus setidaknya sampai tingkat SLTP, sehingga
anak tidak bisa putus sekolah.
c. Penerapan Variasi Model pembelajaran
Ada
berbagai model pembelajaran untuk terciptanya iklim belajar yang efektif dan
menyenangkan serta terapan ilmunya bisa lebih mudah tercapai oleh peserta
didik, misalnya diterapkannya model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) dan model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
Model pembelajaran PAIKEM merupakan
pengkondisian proses belajar dengan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa
terlihat aktif dalam bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan, kreatif
serta inovatif dalam mengeksplorasi kemampuan dan ide-idenya. Di samping itu
perlu kepiawaian dan kreatifitas guru agar suasana itu dibuat menyenangkan
sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar, artinya curah
perhatian siswa tinggi (time on task)
pada saat proses belajar berlansung.
Secara lebih spesifik, model PAIKEM
ini sangatlah menuntut guru untuk lebih mengaplikasikan keprofesionalannya, yang
mana guru harus bisa membangun motivasi siswa untuk
terlibat dalam berbagai kegiatan
yang mengembangkan komponen kognitif, apektif dan psikomotornya dengan penekanan pada belajar melalui berbuat atau melakukan. Guru juga harus
mempersiapkan alat peraga dan mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan
bahan belajar yang lebih menarik serta menerapkan cara mengajar yang lebih
kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.
Disamping model PAIKEM, guru perlu
juga mengetengahkan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL). Model CTL ini cara kerjanya lebih kepada kinerja otak untuk menyusun pola-pola yang
mewujudkan makna dengan cara menghubungkan muatan akademis atau pengetahuan di
dalam kelas dengan konteks kehidupan sehari-hari atau dunia nyata. Model CTL
ini akan sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi siswa, karena siswa akan
merasakan langsung penggunaan sebuah konsep pengetahuan, rumus-rumus dan
teori-teori dengan pembuktian nyata di lapangan.
Satu
contoh, penulis juga sering menggunakan model CTL ini, diantaranya ketika
mengajarkan materi “Diagram Batang” pada pelajaran Matematika kelas VI (enam).
Setelah semua siswa memahami tentang materi tersebut, siswa dibuat beberapa
kelompok untuk turun langsung melakukan pendataan mengenai penghasilan seluruh kepala
keluarga per-bulannya di 5 (lima) kampung sekitar sekolah. Pada pertemuan
berikutnya masing-masing kelompok menuangkannya dalam diagram batang dan
mempresentasikannya di depan kelas.
Selain
itu, berkaitan dengan pembelajaran “Baca Puisi” pada pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia, jika menggunakan pendekatan dan model CTL, siswa bisa saja
dibawa ke pantai, ke perbukitan atau ke pesawahan untuk membacakan puisi yang temanya tentang keindahan alam atau
keagungan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga siswa benar-benar merasakan dan
meghayati, serta memvisualisasi secara langsung puisi-puisi yang dibacakannya.
Oleh karena itu, penerapan model
PAIKEM dan CTL akan sangat membuat senang siswa dan menumbuhkan respon yang
tinggi terhadap belajar di sekolah. Disamping itu konsep pengetahuan yang telah
telah dipelajarinya akan bersifat permanen dan tertuang ke dalam memori jangka
panjang.
d. Penyelenggaraan Kegiatan Peningkatan Kompetensi Melalui PHBN Secara
Rutin
penyelenggaraan
kegiatan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) yang dilaksanakan secara rutin,
seperti HUT RI, Hadiknas, Harkitnas, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Pahlawan
dan hari-hari nasional lainnya dengan diisi berbagai perlombaan yang menyenangkan
dan bersifat edukatif, Kegiatan ini tentu akan memberikan penanaman nilai-nilai
sejarah dan pengalaman bermakna kepada siswa.
Dengan
beragam kemasan dan variasi perlombaan dalam penyelenggaraan PHBN ini juga akan
mampu meningkatkan gairah siswa dalam proses pelaksanaannya, sehingga responsibility baik siswa maupun orang tua siswa akan
semakin tinggi terhadap keberadaan sekolah.
e. Pemberian Dongeng-Dongeng Pilihan Kepada Siswa di Kelas
Pembelajaran
di dalam kelas dengan memberikan materi-materi dongeng pilihan akan sangat
membantu membangkitkan motivasi dan imajinasi serta rasa ingin tahu siswa yang
tinggi. Guru mengajak siswa berfantasi ke arah yang lebih positif yang
mengandung pesan implisit tentang ketekunan dan keuletan belajar sesuai dengan
materi dongeng pilihan. Selain mengarahkan kerja nalar kognitif lewat dongeng, siswa
juga secara tidak langsung akan terbiasa menggerakan dan mengaplikasikan
sikap-sikap apeksinya di lingkungan maupun di luar sekolah.
Dengan mengetengahkan materi dongeng
ini, siswa juga akan menangkap pengetahuan baik langsung maupun tidak langsung.
Pembiasaan pemberian dongeng ini oleh guru paling tidak bisa dilaksanakan
sebulan sekali di hari efektif belajar. Pelaksanaannya bisa dilakukan setelah
apersepsi kegiatan awal belajar atau pun menjelang pulang sekolah.
Sampai usia dewasa pun, siswa yang
mendengarkan dan menyimak dongeng-dongeng yang dikemas secara rapi oleh guru,
tidak akan mudah lupa dalam memori anak. Artinya metode dongeng ini merupakan
bagian dari pemenuhan memori jangka
panjang pada siswa, dan juga membantu hubungan keterikatan yang lebih erat
antara guru dengan siswanya. Oleh karena itu siswa akan selalu senang dan
selalu mengharapkan kehadiran gurunya yang telah memberikan banyak inspirasi
dan keindahan dalam hidupnya.
Kesimpulan
Identifikasi akar persoalan dan
sebab akibat banyak terjadinya siswa tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah
dasar, akan sangat membantu pihak sekolah, khususnya para guru untuk mengolah dan
menyusun mindset pemecahan dan
penanggulangannya. Hasil identifikasi
penulis terkait penyebab siswa tinggal kelas dan putus sekolah diantaranya: Lemahnya
motivasi orangtua siswa, Tingkat kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan
orang tua siswa, Lemahnya hubungan komunikasi guru dengan orang tua siswa,
Metode pembelajaran yang menjenuhkan dan Lingkungan sekolah dan kelas yang tidak menyenangkan.
Secara empiris, penulis mencoba
mencari solusi untuk menanggulangi kondisi-kondisi di atas yaitu dengan cara menanamkan pentingnya pendidikan lewat kegiatan
rapat sosialisasi, sosialisasi peraturaan perundang-undangan tentang wajib
belajar 9 tahun dan Undang-Undang Perlindungan Anak, penerapan variasi model
pembelajaran di dalam kelas dan
penyelenggaraan kegiatan-kegiatan
peningkatan kompetensi melalui PHBN secara rutin serta pemberian dongeng-dongeng pilihan kepada siswa di dalam kelas. Melalui penanggulangan
yang penulis pernah lakukan, sudah beberapa tahun berjalan sampai saat ini
tingkat siswa yang tinggal kelas sangat minim, perbandingannya 300:1, dan siswa
yang putus sekolah sama sekali tidak pernah ada lagi khususnya di tempat penulis
bertugas.
(Artikel
ini akan dilombakan dalam kegiatan:
Lomba
Penulisan Artikel Ilmiah Populer Sekolah Dasar
yang
diselengarakan oleh Dirjendikdasmen-Kemdikbud Tahun 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar