Senin, 09 Oktober 2017

STRATEGI MENCEGAH DAN MENANGGULANGI TINGGAL KELAS DAN PUTUS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR



Oleh: Hida Nurhidayat, S.Pd

Ada banyak asumsi terkait dengan siswa tinggal kelas dan putus sekolah diantaranya dikarenakan siswa tersebut bodoh, malas, nakal dan lain-lain, bahkan ada yang menganggap bahwa orang tuanya terlalu apatis dalam mendidik anak di lingkungan rumahnya. Namun asumsi ini tidak bisa dijadikan kebenaran sebuah jawaban, karena tidak dilakukan identifikasi dan kajian permasalahan kausalitas secara ilmiah.
            Penulis disini mencoba menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah dasar dengan kajian metode deskripsi dan keterhubungan empirisme.keterhubungan empirisme ini relevansinya dengan pengalaman penulis sewaktu menjadi wali kelas kelas VI (enam) lebih dari sepuluh tahun di sekolah dasar.
            Berdasarakan pengalaman penulis, kebanyakan siswa terutama siswa yang putus sekolah itu terjadi di usia siswa kelas V (lima) dan kelas VI (enam). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah dasar diantaranya:
a. Lemahnya Motivasi Orangtua Siswa
            Pembiaran orang tua terhadap anaknya sama dengan tidak ada motivasi apapun terhadap tingkahlaku belajar anak baik ketika di sekolah maupun di rumah. Hal ini tentu akan membuat si anak merasa bebas dalam menentukan keputusan-keputusan subjektifnya. Si anak akan berpikir, mau sekolah atau tidak, mau belajar atau tidak, ia memiiki pilihan yang bebas.
b. Tingkat Kemiskinan dan Rendahnya Tingkat Pendidikan Orang Tua Siswa
            Terutama di daerah-daerah tertinggal seperti di tempat penulis bertugas, mayoritas mata pencaharian orang tua siswa bertani, berternak dan menjadi buruh lepas. Orang tua yang bermata pencaharian berternak biasanya sudah menyuruh  anaknya yang di usia 9 tahun ke atas sudah bisa membantu orang tuanya selepas pulang sekolah. Kalau orang tua siswa itu punya peternakan kambing, jelas kambing itu harus dikeluarkan dari kandangnya untuk diberi makan sekitar jam 11(sebelas) siang hari, sedangkan anaknya yang kebetulan sekoah dasar jam  pulang sekolahnya sekitar jam 12 (dua belas). Di perkampungan, peternakan ayam, kambing dan kerbau hampir semuanya liar, sehingga anak harus punya waktu untuk menggembala hewan-hewan ternak tersebut. Terkadang ada juga orang tua siswa yang marah-marah kepada pihak sekolah karena keluar sekolah terlalu siang, sedangkan anaknya harus segera menggembala ternakannya.
            Sedangkan orang tua yang bermata pencaharian buruh lepas, biasanya mengharapkan anaknya yang seusia sekolah dasar untuk mengasuh adiknya yang masih kecil-kecil di rumah. Akhirnya, karena sering disuruh mengasuh adik-adik kecilnya si anak tersebut sering tidak masuk sekolah.
            Kondisi-kondisi di atas sudah barang tentu berimplikasi pada anak tidak bisa belajar dengan baik, terutama pengembangan belajar di rumah, sehingga anak tersebut ketinggalan dalam pelajarannya dan tidak percaya diri, akhirnya karena nilai-nilainya di bawah grade yang telah ditetapkan di sekolah, maka anak tersebut pada akhir tahun tidak naik kelas. Pengaruh ketidakpercayaan diri itu juga sangat berpotensi  bagi anak untuk memutuskan putus sekolah.
c. Lemahnya Hubungan Komunikasi Guru Dengan Orang Tua Siswa
            Keberhasilan pendidikan dan pengajaran ditentukan juga oleh ikatan hubungan yang kuat antara pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat di dalamnya adalah para orang tua siswa. Tidak dibangunnya komunikasi dan hubungan yang erat antara pihak sekolah dengan orang tua siswa akhirnya tidak ada ruang dan upaya-upaya pencarian pemecahan masalah anak-anak didik dan juga terkait konsensus kemajuan sekolah.
Manakala sering dibangunnya komunikasi dan hubungan yang baik khusunya antara pihak sekolah dengan para orang tua siswa tentu pihak dari orang tua siswa tidak akan merasa segan untuk konfirmasi sekaligus konsultasi dengan pihak sekolah berkaitan dengan proses perkembangan kegiatan belajar anaknya. Maka disini sangat penting sekali dilaksanakannya secara serius program kunjungan rumah dan program rapat-rapat rutin dengan orang tua siswa.
d. Metode Pembelajaran Yang Menjenuhkan
            Cara mengajar guru dengan gaya dan metode-metode klasik juga berimplikasi terhadap menurunnya semangat belajar siswa di sekolah, apalagi guru saat mengajar hanya memberikan buku pelajaran kepada siswa untuk didiktekan oleh ketua kelasnya, kemudian ditinggalkan begitu saja. Setelah selesai mendiktekan buku pelajaran, guru menerangkan sepintas dengan metode ceramah tentang pelajaran yang telah ditulis siswa, kemudian diberikan latihan soal, akurasi jawaban, dan dilanjutkan dengan istirahat atau pulang. 
Jika proses belajar mengajar seperti di atas dilakukan setiap hari, sudah dipastikan akan sangat membuat jenuh siswa. Faktanya siswa akan bersorak-sorai saat mendengar bunyi bel istirahat atau bel pulang. Hal yang wajar juga ketika banyak siswa yang tidak bisa apa-apa dan diantaranya ada yang tinggal kelas di akhir tahun, begitu juga siswa yang memutuskan untuk berhenti sekolah.
            Padahal banyak sekali metode-metode pembelajaran yang mampu membangkitkan motivasi prilaku belajar siswa, mumbuat siswa senang belajar di kelas, membuat siswa kreatif, membuat nalar kognitif, sikap afeksi dan psikomotornya bekerja optimal. Misalnya dengan mengetengahkan metode, diskusi, kerja kelompok, demonstrasi, seminar, eksperimen, inquiry, analisis lapangan, reseach (penelitian), bermain peran, problem solving. Selain metode pembelajaran perlu diketengahkan pula model pembelajaran, seperti model pembelajaran webed, integrated, connected dan juga model pembelajaran yang sangat menyenangkan siswa yaitu model pembelajaran Contectual Teaching and Learning (CTL).
Masih banyak sebenarnya metode, strategi dan model pembelajaran modern lainnya yang bisa dituangkan dalam KBM. Apabila metode dan model pembelajaran ini selalu di tuangkan dalam Lesson Plan dan diterapkan secara kapabel dan serius oleh para guru, dapat dipastikan anak-anak didik kita akan merasa senang, penuh semangat dan betah belajar di sekolah.
e. Lemahnya Pelayanan Keadilan Terhadap Siswa
            Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, ada banyak yang sering kali tidak disadari  dan terperhatikan oleh para guru tentang pelayaanan secara adil kepada siswa. Artinya siswa di dalam kelas yang beragam potensi itu tidak diidentifikasi secara mendalam, misalnya kemampuan atau kecerdasan apa saja yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Guru seringkali lebih dominan memperhatikan dan menomorsatukan kecerdasan siswa dari sisi kemampuan matematik nya saja. Padahal potensi kecerdasan itu banyak sekali. Jelas hal ini adanya ketimpangan perhatian dari guru, sehingga siswa yang tidak berbakat dalam pelajaran matematika, tidak ada motivasi untuk meningkatkan bakat lainnya yang dia miliki, namun bakat siswa tersebut tidak teridentifikasi dengan baik oleh gurunya.
            Bahkan  DR. Howard Gardner mengklasifikasi kecerdasan manusia itu menjadi 8 kecerdasan, diataranya: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetis, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Jika perhatian guru terhadap kecerdasan-kecerdasan itu didesiminasikan dan diimplementasikan secara adil, komparatif dan akseptebel  ke dalam konsep rencana pelaksanaan pembelajaran KBM, tentulah akan menjadi motivasi yang tinggi terhadap siswa secara kolektif.
f.  Lingkungan Sekolah Dan Kelas  Yang Tidak Menyenangkan
            Lingkungan sekolah yang tertata rapi dan asri serta pengelolaan ruangan kelas yang dipenuhi dengan lukisan atau gambar-gambar edukatif serta pajangan-pajangan hasil karya kreatifitas anak juga fasilitas yang lengkap cenderung akan sangat membantu mengeksplorasi motivasi rasa senang dan semangat anak didik dalam belajar secara permanen. Namun pengelolan lingkungan sekolah dan ruangan kelas ini perlu ada perubahan-perubahan secara periodik, agar anak didik selalu menemukan dan merasakan suasana-suasana baru.
            Sebaliknya jika tidak ada menejemen penataan lingkungan sekolah serta ruangan kelas dengan baik, justru akan membuat siswa belajar apa adanya, seakan-akan siswa hanya memenuhi tugas dari orang tuanya, bahkan siswa lebih termotivasi untuk segera pulang ke rumah.
            Kondisi seperti di atas juga sangat berpengaruh terhadap cara belajar siswa, apalagi siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata, memungkinkan tidak akan mendapatkan nilai di atas standar nilai kenaikan kelas, dan memungkinkan juga anak tersebut lebih memilih betah tinggal di lingkungan sekitar rumah ketimbang di sekolah.
Dari beberapa faktor kelemahan yang mempengaruhi tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah dasar maka diperlukan solusi dan penanggulangan yang cemerlang dan konkrit. Disini penulis mencoba mendeskripsikan secara empiris solusi dan penanggulangan yang dianggap epektif.
a. Menanamkan Pentingnya Pendidikan
            Pihak sekolah terutama kepala sekolah dan guru-guru menyediakan ruang silaturahmi dengan para orang tua siswa untuk sharing tentang pentingnya pendidikan dan pembahasan mengenai hambatan-hambatan maju mundurnya pendidikan dan pengajaran di sekolah. Dalam menyampaikan pentinya pendidikan ini kepala sekolah atau guru mesti memiliki konsep yang jelas tentang pendidikan dan proses belajar mengajar itu sendiri.
Konsep yang disampaikan Misalnya penyampaian tentang konsep pendidikan menurut tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara: “Pendidikan adalah segala daya dan upaya untuk memberikan tuntunan pada segala  kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapatlahmencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir batin yang setinggi-tingginya.” Artinya pada diri semua anak itu punya kelebihan dan potensi yang berbeda-beda untuk dikembangkan sebagai bekal kehidupannya di masa depan, paling tidak bisa bermaanfaat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat.
Sugesti-sugeti positif juga perlu sekali disampaikan kepada orang tua siswa, sehingga para orang tua siswa bisa berimajinasi dan memiliki harapan kuat tentang  keberhasilan anak-anaknya, misalnya terkait prestasi-prestasi lomba akademik dan non akademik yang telah diraih oleh siswa-siswa dari sekolah setempat. Hal ini akan menjadi inspirasi orang tua untuk memotivasi anaknya lebih intens lagi, dengan harapan anaknya bisa terseleksi sebagai juara seperti yang disebutkan oleh pihak sekolah.
Perjalanan para tokoh nasional dan orang-orang sukses yang latar kehidupan sebelumnya dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan dan kondisi kemiskinan yang panjang, perlu juga diceritakan kepada para orang tua siswa, sehingga empati para orang tua bisa dituangkan dalam mendidik anak-anaknya khususnya di lingkungan rumah.
b. Menanamkan Peraturaan Perundang-Undangan Tentang Wajib Belajar 9 Tahun
Dalam rapat bersama orang tua perlu juga disampaikan tentang PP. No. 47 Tahun 2008 tentang wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, yaitu wajib belajar 6 tahun di tingkat Sekolah Dasar (SD)  dan 3 tahun di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Ketika orang tua tidak menyekolahkan anaknya sampai usia SLTP, maka orang tua tersebut dinyatakan tidak mendukung bahkan bisa dikatakan telah melanggar kebijakan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan.
Manakala ada orang tua mempekerjakan anak seusia SD atau SLTP untuk mencarai nafkah hidupnya atau menikahkan anaknya, jelas sangat bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak No 35 Tahun 2014. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak  banyak disebutkan  tentang kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, termasuk juga hak-hak yang wajib diperoleh anak.
Penyampaian mengenai implementasi peraturan-peraturan perundang-undangan diatas akan sangat berimplikasi positif terhadapa kesadaran para orang tua siswa untuk konsisten menyekolahkan anaknya hingga lulus setidaknya sampai tingkat SLTP, sehingga anak tidak bisa putus sekolah.

c. Penerapan Variasi Model pembelajaran
            Ada berbagai model pembelajaran untuk terciptanya iklim belajar yang efektif dan menyenangkan serta terapan ilmunya bisa lebih mudah tercapai oleh peserta didik, misalnya diterapkannya model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) dan model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
            Model pembelajaran PAIKEM merupakan pengkondisian proses belajar dengan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa terlihat aktif dalam bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan, kreatif serta inovatif dalam mengeksplorasi kemampuan dan ide-idenya. Di samping itu perlu kepiawaian dan kreatifitas guru agar suasana itu dibuat menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar, artinya curah perhatian siswa tinggi (time on task) pada saat proses belajar berlansung.
            Secara lebih spesifik, model PAIKEM ini sangatlah menuntut guru untuk lebih mengaplikasikan keprofesionalannya, yang mana guru harus bisa membangun motivasi  siswa untuk  terlibat dalam berbagai kegiatan  yang mengembangkan komponen kognitif, apektif dan psikomotornya  dengan penekanan pada belajar melalui berbuat atau melakukan. Guru juga harus mempersiapkan alat peraga dan mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik serta menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.
            Disamping model PAIKEM, guru perlu juga mengetengahkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Model CTL ini cara kerjanya lebih kepada  kinerja otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna dengan cara menghubungkan muatan akademis atau pengetahuan di dalam kelas dengan konteks kehidupan sehari-hari atau dunia nyata. Model CTL ini akan sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi siswa, karena siswa akan merasakan langsung penggunaan sebuah konsep pengetahuan, rumus-rumus dan teori-teori dengan pembuktian nyata di lapangan.
            Satu contoh, penulis juga sering menggunakan model CTL ini, diantaranya ketika mengajarkan materi “Diagram Batang” pada pelajaran Matematika kelas VI (enam). Setelah semua siswa memahami tentang materi tersebut, siswa dibuat beberapa kelompok untuk turun langsung melakukan pendataan mengenai penghasilan seluruh kepala keluarga per-bulannya di 5 (lima) kampung sekitar sekolah. Pada pertemuan berikutnya masing-masing kelompok menuangkannya dalam diagram batang dan mempresentasikannya di depan kelas.
            Selain itu, berkaitan dengan pembelajaran “Baca Puisi” pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, jika menggunakan pendekatan dan model CTL, siswa bisa saja dibawa ke pantai, ke perbukitan atau ke pesawahan untuk membacakan puisi  yang temanya tentang keindahan alam atau keagungan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga siswa benar-benar merasakan dan meghayati, serta memvisualisasi secara langsung puisi-puisi yang dibacakannya.
            Oleh karena itu, penerapan model PAIKEM dan CTL akan sangat membuat senang siswa dan menumbuhkan respon yang tinggi terhadap belajar di sekolah. Disamping itu konsep pengetahuan yang telah telah dipelajarinya akan bersifat permanen dan tertuang ke dalam memori jangka panjang.
d. Penyelenggaraan  Kegiatan Peningkatan Kompetensi Melalui PHBN Secara Rutin
            penyelenggaraan kegiatan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) yang dilaksanakan secara rutin, seperti HUT RI, Hadiknas, Harkitnas, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Pahlawan dan hari-hari nasional lainnya dengan diisi berbagai perlombaan yang menyenangkan dan bersifat edukatif, Kegiatan ini tentu akan memberikan penanaman nilai-nilai sejarah dan pengalaman bermakna kepada siswa.
Dengan beragam kemasan dan variasi perlombaan dalam penyelenggaraan PHBN ini juga akan mampu meningkatkan gairah siswa dalam proses pelaksanaannya, sehingga responsibility  baik siswa maupun orang tua siswa akan semakin tinggi terhadap keberadaan sekolah.
e. Pemberian Dongeng-Dongeng  Pilihan Kepada Siswa di Kelas
            Pembelajaran di dalam kelas dengan memberikan materi-materi dongeng pilihan akan sangat membantu membangkitkan motivasi dan imajinasi serta rasa ingin tahu siswa yang tinggi. Guru mengajak siswa berfantasi ke arah yang lebih positif yang mengandung pesan implisit tentang  ketekunan dan keuletan belajar sesuai dengan materi dongeng pilihan. Selain mengarahkan kerja nalar kognitif lewat dongeng, siswa juga secara tidak langsung akan terbiasa menggerakan dan mengaplikasikan sikap-sikap apeksinya di lingkungan maupun di luar sekolah.
            Dengan mengetengahkan materi dongeng ini, siswa juga akan menangkap pengetahuan baik langsung maupun tidak langsung. Pembiasaan pemberian dongeng ini oleh guru paling tidak bisa dilaksanakan sebulan sekali di hari efektif belajar. Pelaksanaannya bisa dilakukan setelah apersepsi kegiatan awal belajar atau pun menjelang pulang sekolah.
            Sampai usia dewasa pun, siswa yang mendengarkan dan menyimak dongeng-dongeng yang dikemas secara rapi oleh guru, tidak akan mudah lupa dalam memori anak. Artinya metode dongeng ini merupakan bagian dari pemenuhan memori jangka panjang pada siswa, dan juga membantu hubungan keterikatan yang lebih erat antara guru dengan siswanya. Oleh karena itu siswa akan selalu senang dan selalu mengharapkan kehadiran gurunya yang telah memberikan banyak inspirasi dan keindahan dalam hidupnya.
Kesimpulan
            Identifikasi akar persoalan dan sebab akibat banyak terjadinya siswa tinggal kelas dan putus sekolah di sekolah dasar, akan sangat membantu pihak sekolah, khususnya para guru untuk mengolah dan menyusun mindset pemecahan dan penanggulangannya. Hasil identifikasi penulis terkait penyebab siswa tinggal kelas dan putus sekolah diantaranya: Lemahnya motivasi orangtua siswa, Tingkat kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua siswa, Lemahnya hubungan komunikasi guru dengan orang tua siswa, Metode pembelajaran yang menjenuhkan dan Lingkungan sekolah dan kelas  yang tidak menyenangkan.
            Secara empiris, penulis mencoba mencari solusi untuk menanggulangi kondisi-kondisi di atas yaitu dengan cara menanamkan pentingnya pendidikan lewat kegiatan rapat sosialisasi, sosialisasi peraturaan perundang-undangan tentang wajib belajar 9 tahun dan Undang-Undang Perlindungan Anak, penerapan variasi model pembelajaran di dalam kelas  dan penyelenggaraan  kegiatan-kegiatan peningkatan kompetensi melalui PHBN secara rutin serta  pemberian dongeng-dongeng  pilihan kepada siswa di dalam kelas. Melalui penanggulangan yang penulis pernah lakukan, sudah beberapa tahun berjalan sampai saat ini tingkat siswa yang tinggal kelas sangat minim, perbandingannya 300:1, dan siswa yang putus sekolah sama sekali tidak pernah ada lagi khususnya di tempat penulis bertugas.

(Artikel ini akan dilombakan dalam kegiatan:
Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Populer Sekolah Dasar
 yang diselengarakan oleh Dirjendikdasmen-Kemdikbud Tahun 2017)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar