Senin, 25 April 2016

Surat Buat Pak Menteri ....!




Terhadap Guru,
Saya mencoba berpikir sejenak ketika Menyimak berita “Mulai 1 Januari 2016 Aturan Serifikasi Berubah”. Kenapa ya sertifikasi  selalu saja dipersoalkan.
 Inilah salah satu kelemahan manusia, selalu saja mengorek-ngorek kelemahan manusia, bukankah dalam Islam itu haram? mungkin dalam ajaran agama lain pun sama? apalagi setelah diketemukan kelemahannya dibantailah dan dipilah-pilah kesejahteraannya atas nama untuk keadilan, dipersulit langkah-langkah administratifnya demi tercapainya tujuan evaluasi sebagaimana perintah logikanya. Perjuangan "Sertifikasi" itu adalah hasil jerih payah perjuangan para petinggi PGRI lebih dari satu dasawarsa yang lalu, Pak Menteri! Sampai terbitnya UU Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005. Perjuangan beliau-beliau itu sama sekali bukan untuk merusak , mensabotase danmenjarah uang negara, melainakan untuk mempersembahkan itikad kemanusiawian melalui pertimbangan-pertimbangan yang luhur dan mulia dengan satu bentuk kesejahteraan terhadap para pejuang peradaban, pemberi nilai-nilai kebenaran hidup dan juga pencerahan alam pikiran manusia, yang dulunya selalu bersabar dan qona’ah dalam kondisi kesulitan secara ekonomi.
Entah berapa jumlah kebaikan para guru. Jelas tidak akan bisa dijumlah dengan hitungan jari. mereka adalah "Guru", sekali lagi mereka adalah "Guru", selayaknya manusia yang secara kodrati punya kelemahan. Namun bisakah Pak Menteri' menakar nilai kebaikannya dan dikonversi menjadi angka-angka numeratif. Apakah kelemahannya benar-benar bisa disimbolisasi dengan menjawab  100-1000 soal menjadi kebenaran matematis sehingga menjadi bahan rujukan komparasi keadilan?
Sekali lagi Pak Menteri, mengingatkan saja, ‘Sertifikasi’ itu bukan perjuangan pemerintah, tapi perjuangan para petinggi organisai PGRI di masalalu! Jadi sebaiknya biarkanlah “Sertifikasi” itu berjalan sahaja, bila perlu beri apresiasi terhadap para pahlawan terdahulu  yang telah memperjuangkan kesejahteraan para Oemar Bakri (Guru).
Saran saja, jika ingin membenahi dunia pendidikan dengan inspirasi dan temanya persoalan kesejahteraan, tidak mesti menggali dan mengotak-atik persoalan “Sertifikasi” yang sudah dipatenkan yurisprudensinya. Apa salahnya, buat lagi saja satu terobosan, misalnya konsep “Tunjangan Kompetensi”.  Jelas ini pengukurannya akan mendapat responsibilitas yang tinggi khususnya dari para guru. Sejauhmana kompetensi pedagogik, professional, sosial dan kepribadiannya seorang guru. Nah, baru disini para pendidik akan maklum terhadap keseimbangan, tidak akan ada yang berteriak tentang tuntutan keadilan dan tidak akan ada air mata  suci yang menetes di bumi pertiwi tercinta ini. Saya yakin dunia pendidikan di Indonesia akan lebih cemerlang, tidak akan ada perkabungan degradasi pendidikan dan lain-lain. Hal ini bisa dibuktikan dalam fase 5 (lima) tahun ke depan. Insyaallah.








Minggu, 24 April 2016

Awas! Bahaya Dunning-Kruger Effect: Merasa Dirinya Lebih Baik



Dalam kehidupan ini, banyak sekali peristiwa yang kita yakini adalah sebuah kebenaran tapi tanpa disadari adalah sebuah kesalahan. Kita seringkali merasa diri kita pandai, kompeten, dan lebih baik dari orang lain padahal belum tentu faktanya demikian.
Ambil contoh anda adalah seorang lulusan komputer di SMK, kemudian masuk ke perkuliahan dengan mengambil jurusan yang berbeda dari apa yang anda tekuni sewaktu di bangku SMK. Nah, ketika anda berdampingan dengan mahasiswa jurusan komputer, disitu anda merasa bahwa anda lebih hebat dari mereka karena anda membawa sejuta pengalaman tentang komputer dibandingkan mereka yang baru memasuki bidang ilmu tersebut, terkecuali mereka yang dulu juga SMK dengan jurusan yang sama.
Peristiwa semacam ini sering disebut dengan istilah Dunning-Kruger Effect, suatu penyimpangan kognitif dimana penderitanya merasa bahwa dirinya lebih baik atau lebih hebat daripada orang lain pada umumnya. Penyimpangan tersebut diakibatkan ketidakmampuan atas dirinya mengidentifikasi kekurangan-kekurangannya. Dalam pengertian lain, efek Dunning-Kruger adalah orang bodoh yang yakin bahwa dirinya sudah pandai.
Istilah ini diciptakan oleh dua orang ahli psikologi dari Universitas Cornell bernama David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 setelah dia melakukan sebuah studi yang menyimpulkan bahwa, “kesalahan dalam menilai orang yang inkompeten berawal dari kesalahan menilai diri sendiri, sedangkan kesalahan dalam menilai orang yang sangat kompeten berawal dari kesalahan menilai orang lain.”
Pernahkah anda merasa demikian? Merasa dirinya superior, tapi ternyata ada yang lebih hebat dari kita. Seperti halnya saya juga sering merasakan efek Dunning-Kruger. Saya pernah merasa bahwa diri saya paling pandai menulis tapi diluar sana juga kurang lebih 80% pasti ada yang lebih pandai dari saya.
Ternyata efek Dunning-Kruger juga pernah disinggung oleh beberapa tokoh di dunia:
Charles Darwin pernah mengatakan bahwa, “ketidaktahuan cenderung menghasilkan rasa percaya diri, bukan pengetahuan.”
William Shakespeare, seorang pujangga dan pemain drama klasik pernah menyinggung dalam dramanya berjudul As You Like It bahwa, “orang bodoh merasa dirinya bijak, tapi orang bijak merasa dirinya bodoh.”
Konfusius atau Kong Hu Cu pernah memaparkan, “pengetahuan sejati berguna untuk mengetahui tingkat ketidaktahuan seseorang.”
Bertrand Russel, seorang matematikawan Inggris pernah mengatakan, “hal yang paling mengecewakan saat ini adalah orang-orang yang merasa dirinya yakin sebenarnya tidak tahu apa-apa dan orang-orang yang punya imajinasi dan pemahaman justru penuh keraguan dan rasa bimbang.”
Efek Dunning-Kruger dalam pandangan Islam
Masih berhubungan dengan singgungan tokoh dunia tentang efek Dunning-Kruger, ada tokoh Islam bernama Al-Khalil bin Ahmad yang memaparkan empat macam manusia dalam spektrum pengetahuan:
  • Pertama, adalah orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Dia adalah orang yang baik dan sudah diberikan petunjuk.
  • Kedua, adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dia adalah orang yang memiliki bakat terpendam dalam dirinya.
  • Ketiga, adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Biasanya adalah orang yang sedang mencari ilmu.
  • Terakhir, adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia adalah orang yang bodoh dan waspadailah jenis manusia ini pada diri anda.
Nah, cerminan efek Dunning-Kruger sama dengan jenis manusia keempat. Dia tidak tahu potensi dirinya. Dia mengira dirinya paling hebat tapi sebenarnya dia itu tidak hebat, dan parahnya dia tidak mengetahuinya!
Dalam Islam, ada istilah ujub, yaitu peristiwa mengagumi diri sendiri. Ujub menganggap dirinya hebat, memuji dirinya baik secara fisik, intelektual, spiritual, dan sebagainya. Pada surat An-Najm ayat 32 dijelaskan, “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Referensi:


Kamis, 21 April 2016

Guru Hebat Award-Anugrah Koran Banten Pos Dan Pemprov Banten





Tangerang, November 2015

Selasa, 19 April 2016

O2SN TINGKAT KABUPATEN LEBAK 18 APRIL 2016

Pembimbingan Peserta O2SN oleh Bapopsi di Rangkasbitung, 18 April 2016

Good Luck!!






Sepak Bola Persahabatan: PGRI Cab. Wanasalam Vs PGRI Kab. Lebak

Sepak Bola Persahabatan: PGRI Cab. Wanasalam Vs PGRI Kab. Lebak Tanggal 13 Februari 2016 bertempat di Lapangan Sukatani Kec. Wanasalam. Dihadiri oleh Pak Juanda, Ketua PGRI Kab. Lebak.








Senin, 18 April 2016

Kapan Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan I Tahun 2016 Cair ?



Tunjangan Guru Triwulan I Tahun 2016 Cair April
Kemendikbud akan mencairkan berbagai tunjangan guru untuk Triwulan I/2016 kepada 247.011 guru pada April.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mencairkan berbagai tunjangan guru pendidikan dasar untuk Triwulan I tahun 2016 pada bulan April mendatang. Total anggaran untuk tunjangan guru triwulan I mencapai Rp 3,81 triliun rupiah untuk 247.011 guru.

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Poppy Puspitawati menjelaskan, tunjangan yang disalurkan meliputi Tunjangan Profesi dengan sasaran sebanyak 84.812 orang dengan dana RP 1.962.775.291.000.

Selanjutnya, Tunjangan Khusus sebesar Rp 1.445.550.000.000 dengan sasaran 52.375 orang. Berikutnya Tunjangan Pendidikan Khusus sasaran 1.000 orang dengan dana 18 miliar rupiah, Tunjangan Insentif sasaran 49.499 orang dengan dana Rp 178.196.400.000, dan Bantuan Kualifikasi Akademik S1 sasaran 59.325 orang dengan dana Rp 207.637.500.000.

Baca juga: Guru Penerima Insentif Tahun 2016 dari Kemdikbud

Total dana yang dicairkan untuk empat jenis tunjangan guru dan bantuan kualifikasi akademik S1 untuk guru-guru pendidikan dasar triwulan I tahun anggaran 2016 senilai Rp 3,81 triliun lebih. Penentuan besaran pemberian dana terkait beberapa tunjangan dan bantuan tersebut mengacu pada petunjuk teknis penyaluran masing-masing tunjangan.

"Sedangkan untuk guru penerima tunjangan non-PNS kuotanya turun karena guru yang lulus sertifikasi tahun 2015 belum teranggarkan, dan akan dipenuhi melalui APBN-P tahun 2016," kata Poppy yang SekolahDasar.Net kutip dari Koran Jakarta (24/02).

Pemerintah untuk tahun 2016 telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 73 triliun untuk tunjangan profesi guru PNSD (Pegawai Negeri Sipil Daerah) jenjang pendidikan dasar-menengah dan 7 triliun rupiah untuk tunjangan profesi guru non-PNS dari APBN.

Senin, 11 April 2016

Menyesali Sebuah Keputusan hingga Melahirkan Distorsi Kognitif




  Oleh: Nia Putri Angelina


Well, setiap orang pasti pernah menyesali sebuah keputusan yang hasilnya mungkin tak seperti yang kita inginkan meskipun sebelumnya telah kita pikirkan dalam-dalam.

"Cobalah untuk renungkan sejenak, waktu yang terus berjalan dan tidak akan memberikan kita jalan tuk kembali ke depan dengan kecepatannya tanpa penerimaan kita menyukainya atau tidak. Kitapun telah terseret pula bersama dengannya. Bahkan seringkali kita lalai bahwa derasnya waktu tentu menuntut kepalan keberanian menghadapinya."

 Bahkan terkadang kita terjebak untuk berusaha keras menghapus setiap jejak langkah yang telah ditorehkan dalam perjalanan kehidupan ketimbang mencari cara bagaimana langkah untuk perbaikan diri dan menata diri wujudkan tujuan yang ingin kita capai.

Seringkali justru bermula dari sebuah penyesalan, malah melahirkan sebuah pemikiran baru yang tanpa sadar telah kita blokir solusi atau memotivasi pada diri sendiri akan kepuasan atas dasar keputusan yang telah kita ambil.

Pahamilah nilai sebuah tanggung jawab diri kita, petik di saat kita menghormati sebuah keputusan. Jadi, tak ada alasan kita untuk menyesali keputusan yang telah kita ambil, bukan! Keberanian menghadapi hidup adalah kunci keberhasilan mengarungi betapa buasnya samudera kehidupan untuk menggapai pulau kemenangan.

on the other hand,
pemikiran manusia sungguh ajaib. Dengan ide-ide yang dimunculkannya, ia bisa mengubah manusia dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi buruk, yang buruk semakin buruk, yang baik semakin baik. Hubungan antara pikiran dan perilaku ini banyak dijelaskan oleh teori kognitif-behavioral. Teori ini sangat menarik perhatian dan menjadi salah satu teori psikologi terfavorit bagi saya. Beberapa kali penerapan teori ini menyelamatkan saya dari berbagai situasi dan peristiwa yang kurang menyenangkan.

Kerendahan hati mengurangi kebutuhan kita untuk pembenaran diri dan memungkinkan kita untuk mengakui dan belajar dari kesalahan kita. Hal ini dapat membantu kita mengatasi banyak distorsi. -- Hal tersebut adalah salah satu point penting bagi Saya.

 Melalui tulisan ini, Saya ingin mengajak kompasianer menyadari bahwa seringkali yang jadi masalah dan sumber bagi masalah adalah diri kita sendiri, berupa pikiran-pikiran kita sendiri. Dan ada banyak hal pula yang sesungguhnya tidaklah buruk sebelum kita memulai berpikiran buruk. Selain itu, banyak pula kejadian yang benar-benar sangat berat namun ternyata dapat terasa cukup ringan sehingga mampu kita lewati karena kita mampu berpikir positif.

Keajaiban berpikir positif banyak didengung-dengungkan orang, lihat saja banyak buku psikologi populer yang mengusung tema ini. Namun demikian, sebelum kita berpikir positif, kita perlu tahu pikiran macam apa yang harus dipositifkan karena ia sesungguhnya bernilai negatif. Kita perlu mengenal macam-macam pikiran negatif atau dalam bahasa ilmiah psikologisnya,distorsi kognitif.

Pikiran positif tidak akan banyak berefek jika kita belum memerangi asal muasal sebuah masalah berupa cara berpikir kita yang negatif. Terdapat beberapa macam cara berpikir yang negatif (terima kasih Mr. Aaron Beck) *

Berpikir All-Or-Nothing
Beginilah orang dengan cara pemikirannya yang notabene hitam-putih dan lalai kalau masih ada dunia abu-abu yang menenangkan. Ia berpemikiran dan berharap secara ekstreme. Beginilah cara berpikir yang kelewatan perfeksionis sehingga memandang kesalahan kecil sebagai kegagalan total atau melihat suatu dan menyimpulkannya menjadi fatal secara keseluruhan. Contoh: Seorang mahasiswa yang cita-citanya dapat IP 4. Begitu ada satu nilainya yang B, ia langsung, “Wahh… aku bodoh!” dan sangat bersedih dan terlarut sampai baper. Ia berpemikiran mahasiswa hebat itu nilainya harus A semua. Inilah all-or-nothing-nya: “semua”. *

Berpikir Overgeneralization
 Contoh: Ada mahasiswa yang mengirimkan naskah atau artikelnya pada sebuah penerbit. Sudah berkali-kali dan sayangnya, ditolak. Dia lalu berkata, “Aku tidak pernah bisa menulis bagus. Tulisanku selalu ditolak. Sial terus…” Nah, kata “tidak pernah” dan“selalu” yang membuatnya jadi kehilangan harapan. Dengan berpemikiran semacam ini bagaimana bisa tidak berputus asa? Ia mengambil kesimpulan yang digeneralisasi secara luas hanya berdasarkan satu insiden atau sepotong bukti saja. *

Penyaringan Mental
 Contoh: Pernahkah teman-teman mengalami ini? Banyak orang mengatakan kamu orang yang baik, pintar, dan yang baik-baik lainnya. Namun, tiba-tiba ada satu saja yang mengatakan, “Ih, sombong.” Satu komentar itu saja namun dapat membuat duniamu jadi gelap, harga dirimu jatuh. Ke mana perginya yang baik-baik dan banyak itu? Yang di pikiranmu cuma satu yang negatif itu. * Disqualifying the Positive Contoh: Hasil ujian diumumkan dan kamu dapat nilai A. Entah mengapa kamu tidak puas. Seorang temanmu mendekat dan menepuk, “Selamat, ya. Hasil kerja keras!” Namun, kamu malah berpikir bahwa nilai A ini belum cukup bagus. Semua orang bisa mendapatkannya! (Inginnya selalu jadi -be the number and the only one…) menolak pengalaman dan hasil yang baik. Akhirnya, tidak ada perasaan bahagia karena kebahagiaan sudah ditolak dan keyakinan-keyakinan negatif tetap terpeliha. *

Kesimpulan yang Melompat
 Beginilah cara orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dan kesimpulannya negatif (karena tidak ada fakta yang mendukung kesimpulan itu).
Ada dua tipe, diantaranya yaitu :
1. Si 'Mind Reading' Contoh: Tanpa bertanya dulu, kamu mengambil kesimpulan temanmu yang 'mengernitkan dahi' itu tidak suka padamu.
 2. Si 'Fortune Telling' Contoh: Belum lagi kejadiannya terjadi, kamu sudah berpikiran pasti gagal. Belum lagi ujian dimulai, belum lagi berusaha, kamu sudah berpikir akan gagal ujian. *

 Berpikir Katastrofik (Membesar-besarkan)
Contoh: Jerawat nih… cuma satu, merah, kecil, di pipi. Tapi, reaksimu: Wahhh, ancur. Mana hari ini mau presentasi. Bagaimana kalau aku ditertawakan teman-teman, lalu aku jadi gagap. Bagaimana kalau dosen jadi berpikiran negatif soal aku dan aku dikasih nilai jelek? Orang ini terlalu berlebihan dalam berandai-andai… dan sayangnya, diseriusi. *

Bernalar Pakai Emosi
Bagaimana jika perasaanmu mendahului penalaran rasionalmu? Sering, perasaanmu sangat subjektif. Contoh: Sedang ujian TA, kamu nerveous. Jelas, nerveous. Tapi, seketika pas begitu lihat wajah dosen penguji kamu langsung salah tingkah, “Sepertinya aku akan dibantai. Wajah ibunya serius amat. Ibunya pasti nanya yang susah-susah. Aduh, gimana…” *

Berpikir “Seharusnya”
Harus, harus, dan harus tidak selamanya baik. Keharusan itu bahkan menjadi tirani jika ia malah membuatmu bertindak berdasarkan aturan yang tidak fleksibel. Keharusan ini membuat diri sangat anti pada kesalahan. Harus menang, tidak boleh kalah. Setiap hari saya tidur empat jam saja karena saya harus banyak belajar dan ibadah malam. Harus jadi orang soleh, tidak boleh berbuat dosa. Berpikir seharusnya menjauhkan kita dari kodrat kemanusiaan kita. Ada banyak hal yang sunnah di dunia ini, tidak wajib, ada banyak perkecualian dan kasus khusus. Jika tidak boleh ada perbuatan salah, buat apa ada ampunan Tuhan?

Memberi Melabel
 Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan mati-matian, tapi hasilnya masih kurang baik. Sebagai ketua, kamu sangat kecewa dan naik pitam, “Ini orang-orang tidak berguna! Bodoh semua!” Melabel adalah bentuk ekstrem dari berpikir all-or nothing. Melabel membuat kita menjelek-jelekkan orang/ diri sendiri dan mengabaikan sisi positif yang ada. Melabel seakan-akan menjadikan orang buruk karena dari asalnya dia memang buruk, berkarakter buruk. *

Personalisasi dan Menyalahkan
 Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan mati-matian, tapi hasilnya tetap jelek. Sebagai ketua, kamu langsung nangis, “Maaf, semua ini salahku. Sebagai ketua panitia aku tidak becus… Seandainya aku sungguh-sungguh, semua ini tak akan terjadi.” Personalisasi terjadi ketika kita menjadikan diri kita sebagai kambing hitam terjadinya masalah, yang sesungguhnya mengapa dan bagaimana ia terjadi benar-benar di luar kontrol kita. Personalisasi ini memunculkan perasaan bersalah, rasa malu, dan tidak berdaya. Kebalikan orang di atas adalah orang yang hobinya menyalahkan orang lain. Ia lupa bahwa ia juga berkontribusi dalam terjadinya masalah. ****

Sebetulnya masih ada beberapa macam pikiran negatif atau distorsi kognitif, namun sepertinya yang di atas cukup mewakili.

 well, - Ketika kita mengubah diri, maka semua yang kita dapatkan di luar diri kita akan berubah (Jim Rohn)
Jika kita tidak mau merumuskan tujuan hidup bagi diri kita, maka kita akan bekerja untuk merealisasikan tujuan hidup orang lain (Brian Tracy)
- Ketika kita menentukan keputusan hidup, maka saat itulah nasib kita sudah dicetak (Anthony Robbins).

Nia Putri Angelina /niangelina https://about.me/niangelina Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niangelina/menyesali-sebuah-keputusan-hingga-melahirkan-distorsi-kognitif_57069ef660afbd480b225b93