4 Alasan Mengapa Sistem Pendidikan di Indonesia Menyedihkan
4 Alasan Mengapa Sistem Pendidikan di Indonesia Menyedihkan
Alasan ini yang menyebabkan sistem pendidikan Indonesia kalah dari negara lain
Bintang.com, Jakarta
Pendidikan di Indonesia saban hari menjadi polemik. Selain kurikulum
yang sulit, sistem negara ini belum berhasil sepenuhnya mencetak
generasi baik.
Tengok Finlandia. Negara ini diakui memiliki sistem pendidikan paling
keren di dunia dan mencetak generasi bangsa unggulan serta diakui
sejagat.
Setidaknya ada 4 alasan utama kenapa sistem pendidikan negeri ini jadi menyedihkan. Yuk kita lihat alasannya. Let's go!
#Akreditasi
Ilustrasi akreditasi | Via: newcrystalhealth.org
Akreditasi di Finlandia itu tidak didapat dari pemerintah melainkan
masyarakat. Jadi, warga menilai langsung apakah anak mereka semakin
cerdas dan baik di sekolah atau malah sebaliknya. Akreditasi ini lebih
greget karena melibatkan penduduk langsung.
#Kurikulum
Ilustrasi kurikulum mandiri | Via: sixdollarfamily.com
Di Finlandia, kurikulum dikemas sesuai keunggulan masing-masing
daerah. Di Indonesia hal itu tidak terjadi. Kurikulum serentak dari
pemerintah yang harus ditaati.
Sederhananya, jika kamu orang Papua asli, mau tak mau harus menelan masakan dari Jawa. Tentu kesulitan, kan?
#Ujian
Ilustrasi ujian mandiri | Via: lydiadenworth.com
Di Finlandia, gak ada yang namanya ujian nasional. Ujian dibuat
sesuai hasil proses pembelajaran masing-masing anak. Sementara di
Indonesia hal itu hampir mustahil.
#Standar Nilai
Ilustrasi etika anak | Via: rosyarachmania.wordpress.com
Di Finlandia tidak ada standar kecukupan nilai sebab tiap anak
berbeda kemampuan menyerap pelajaran. Yang justru dikembangkan yakni
STANDAR ETIKA DAN MORAL. Etika dan moral menjadi pondasi dasar bangsa
kuat, cerdas, serta santun.
No wonder, masih banyak tawuran anak sekolah di sini, ya. Hiks :(
Ilustrasi tawuran pelajar. Foto: tribunnews.com
Itu tadi 4 poin penting yang menjawab pertanyaan kenapa pendidikan di
Indonesia sungguh miris. Semoga pemerintah bisa memperbaikinya, ya.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar