Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Alhamdulillah
wasyukrillah walahaulawalakuwwata illa billah. Robbisrokhli Shodri
Wayasyirli amri wahlul’uqdatammilisani yafqohuqouli. Amaba’du.
Yang saya
hormati Bapa Ibu Dewan Guru, Para Guru Pembimbing,
Para Pejuang peradaban,
besrta para tamu undangan.
Alhamdulillah,
pagi ini kita bisa merasakan betapa
indahnya karunia Allah, betapa agungnya kebajikan yang telah dianugerahkan oleh
Allah, betapa nikmatnya keberkahan yang
telah diberikan oleh Allah Swt kepada kita semua, sehingga kita masih bisa
diberi kesehatan untuk berkumpul bersama
di sini, bertatap muka dan
bersilaturahmi.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah selalu kepada junjungan kita Kanjeng
Nabi Muhammad Saw, keluarga, para sahabat dan para pengikutnya sampai akhir
zaman. Dan semoga kita semua termasuk di didamnya sebagai umat yang akan
mendapat testimoni
safaat di akhirat kelak.
Hadirin yang saya hormati dan Allah muliakan,
Izinkanlah di sini saya barang sedikit
menyampaikan pidato singkat yang bertema “
Membangun Pribadi Yang Mulia”.
Salah
satu persoalan yang sangat fundamental untuk menjadi konsenterasi pemikiran kita bersama di negeri kita saat ini adalah integritas
atau kepribadian sebagai warga Negara, sebagai bangsa yang dulunya memiliki budi pekerti dan Kepribadian yang
luhur. Namun Kepribadian yang luhur itu saat ini sepertinya hanya menjadi sebuah
dongeng. Buktinya saat ini banyak sekali orang-orang yang mencabik-cabik dan
menggonjang-ganjing negerinya sendiri demi sebuah kepentingan purakan dan tidak
jelas.
Hadirin yang saya hormati dan Allah muliakan,
Oleh
karena kondisi demikian, marilah kita saat ini, hari ini dan detik ini kembali
ke jati diri kita yang sebenarnya. Kita adalah bangsa yang berkepribadian,
beradab dan berbudaya serta beragama. Mari kita kembali ke jalan Allah Swt,
mari kita teladani Kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah Saw.
- Bagi kita yang sedang menduduki
jabatan tinggi, jadikanlah jabatan itu sebagai amanah, dan tidak harus
mengecilkan orang lain. Sebab kedudukan manusia di mata Allah adalah sama. Saat ini kita menjadi Guru, menjadi Polisi,
Hakim, Jaksa, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur Bahkan Presiden, semua
itu merupakan titipan dalam pengujian
yang akan dipertanggungjawabkan di pengadilan superlatif, di persidangan
tertinggi yakni di Mahkamah Akhirat,.
- Bagi kita yang sedang diberi
kekayaan, jadilah kita orang kaya yang dermawan dan tidak sombong
- Kita yang sedang diuji dengan
kemiskinan, kita yang sedang sakit, maka bersabarlah dan tetaplah beribadah
kepada Allah Swt.
Hadirin yang saya hormati dan Allah muliakan,
Kita
mesti pula ingat para sahabat Rasululullah Saw, Bagaimana kuat dan tawadunya
Abu Bakar Shidiq, Bagaimana kedermawanan dan simpatiknya Usman Bin Affan,
Bagaimana tegasnya Umar Bin Khattab dan bagaimana gagah dan beraninya Sayidina
Ali Bin Abi Thalib. Mereka, mereka … adalah
pemilik kepribadian yang agung dan mulia, yang harus kita jadikan referensi dalam
menjalani dan menata kehidupan dunia ini, khususya di negeri tercinta ini.
Apakah kepribadian seseorang tidak
berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari di masyarakat?
Apakah kepribadian seorang guru tidak berpengaruh
terhadap tingkah murid-muridnya?
Apakah kepribadian seorang ulama
tidak berpengaruh terhadap umatnya?
Apakah kepribadian seorang pimpinan
tidak berpengaruh terhadap bawahannya?
Apakah kepribadian seorang pemimpin
tidak berpengaruh terhadap rakyatnya, terhadap sistem pemerintahannya, terhadap
daerahnya, dan terhadap negaranya?
Saya
pikir, dan kita niscaya sepaham, bahwa semua tingkah kepribadian manusia punya
relevansi, ada keterkaitan, kausatif dan determinatif. Tinggal kita semua
memilah keperibadian seperti apa yang mesti kita bangun dalam jiwa-jiwa kita,
sehingga kita punya keyakinan untuk merawat dan menata peradaban di bumi yang
indah ini.
- Barangkali cukup sekian pidato singkat saya, mudah-mudahan ada
manfaatnya khususnya buat diri saya dan umumnya buat kita semua. Kurang
lebihnya saya mohon maaf.
“
Rusaknya Kepribadian, hancurnya Kepribadian adalah bukan hanya fenomena
runtuhnya kejayaan manusia, melainkan musnahnya riwayat bumi. “ Wallahu’alam.
Wallahumuwafiq Illa aqwamitthoriq.
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Penulis Naskah: "Hida Nurhidayat"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar