Senin, 11 April 2016

Menyesali Sebuah Keputusan hingga Melahirkan Distorsi Kognitif




  Oleh: Nia Putri Angelina


Well, setiap orang pasti pernah menyesali sebuah keputusan yang hasilnya mungkin tak seperti yang kita inginkan meskipun sebelumnya telah kita pikirkan dalam-dalam.

"Cobalah untuk renungkan sejenak, waktu yang terus berjalan dan tidak akan memberikan kita jalan tuk kembali ke depan dengan kecepatannya tanpa penerimaan kita menyukainya atau tidak. Kitapun telah terseret pula bersama dengannya. Bahkan seringkali kita lalai bahwa derasnya waktu tentu menuntut kepalan keberanian menghadapinya."

 Bahkan terkadang kita terjebak untuk berusaha keras menghapus setiap jejak langkah yang telah ditorehkan dalam perjalanan kehidupan ketimbang mencari cara bagaimana langkah untuk perbaikan diri dan menata diri wujudkan tujuan yang ingin kita capai.

Seringkali justru bermula dari sebuah penyesalan, malah melahirkan sebuah pemikiran baru yang tanpa sadar telah kita blokir solusi atau memotivasi pada diri sendiri akan kepuasan atas dasar keputusan yang telah kita ambil.

Pahamilah nilai sebuah tanggung jawab diri kita, petik di saat kita menghormati sebuah keputusan. Jadi, tak ada alasan kita untuk menyesali keputusan yang telah kita ambil, bukan! Keberanian menghadapi hidup adalah kunci keberhasilan mengarungi betapa buasnya samudera kehidupan untuk menggapai pulau kemenangan.

on the other hand,
pemikiran manusia sungguh ajaib. Dengan ide-ide yang dimunculkannya, ia bisa mengubah manusia dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi buruk, yang buruk semakin buruk, yang baik semakin baik. Hubungan antara pikiran dan perilaku ini banyak dijelaskan oleh teori kognitif-behavioral. Teori ini sangat menarik perhatian dan menjadi salah satu teori psikologi terfavorit bagi saya. Beberapa kali penerapan teori ini menyelamatkan saya dari berbagai situasi dan peristiwa yang kurang menyenangkan.

Kerendahan hati mengurangi kebutuhan kita untuk pembenaran diri dan memungkinkan kita untuk mengakui dan belajar dari kesalahan kita. Hal ini dapat membantu kita mengatasi banyak distorsi. -- Hal tersebut adalah salah satu point penting bagi Saya.

 Melalui tulisan ini, Saya ingin mengajak kompasianer menyadari bahwa seringkali yang jadi masalah dan sumber bagi masalah adalah diri kita sendiri, berupa pikiran-pikiran kita sendiri. Dan ada banyak hal pula yang sesungguhnya tidaklah buruk sebelum kita memulai berpikiran buruk. Selain itu, banyak pula kejadian yang benar-benar sangat berat namun ternyata dapat terasa cukup ringan sehingga mampu kita lewati karena kita mampu berpikir positif.

Keajaiban berpikir positif banyak didengung-dengungkan orang, lihat saja banyak buku psikologi populer yang mengusung tema ini. Namun demikian, sebelum kita berpikir positif, kita perlu tahu pikiran macam apa yang harus dipositifkan karena ia sesungguhnya bernilai negatif. Kita perlu mengenal macam-macam pikiran negatif atau dalam bahasa ilmiah psikologisnya,distorsi kognitif.

Pikiran positif tidak akan banyak berefek jika kita belum memerangi asal muasal sebuah masalah berupa cara berpikir kita yang negatif. Terdapat beberapa macam cara berpikir yang negatif (terima kasih Mr. Aaron Beck) *

Berpikir All-Or-Nothing
Beginilah orang dengan cara pemikirannya yang notabene hitam-putih dan lalai kalau masih ada dunia abu-abu yang menenangkan. Ia berpemikiran dan berharap secara ekstreme. Beginilah cara berpikir yang kelewatan perfeksionis sehingga memandang kesalahan kecil sebagai kegagalan total atau melihat suatu dan menyimpulkannya menjadi fatal secara keseluruhan. Contoh: Seorang mahasiswa yang cita-citanya dapat IP 4. Begitu ada satu nilainya yang B, ia langsung, “Wahh… aku bodoh!” dan sangat bersedih dan terlarut sampai baper. Ia berpemikiran mahasiswa hebat itu nilainya harus A semua. Inilah all-or-nothing-nya: “semua”. *

Berpikir Overgeneralization
 Contoh: Ada mahasiswa yang mengirimkan naskah atau artikelnya pada sebuah penerbit. Sudah berkali-kali dan sayangnya, ditolak. Dia lalu berkata, “Aku tidak pernah bisa menulis bagus. Tulisanku selalu ditolak. Sial terus…” Nah, kata “tidak pernah” dan“selalu” yang membuatnya jadi kehilangan harapan. Dengan berpemikiran semacam ini bagaimana bisa tidak berputus asa? Ia mengambil kesimpulan yang digeneralisasi secara luas hanya berdasarkan satu insiden atau sepotong bukti saja. *

Penyaringan Mental
 Contoh: Pernahkah teman-teman mengalami ini? Banyak orang mengatakan kamu orang yang baik, pintar, dan yang baik-baik lainnya. Namun, tiba-tiba ada satu saja yang mengatakan, “Ih, sombong.” Satu komentar itu saja namun dapat membuat duniamu jadi gelap, harga dirimu jatuh. Ke mana perginya yang baik-baik dan banyak itu? Yang di pikiranmu cuma satu yang negatif itu. * Disqualifying the Positive Contoh: Hasil ujian diumumkan dan kamu dapat nilai A. Entah mengapa kamu tidak puas. Seorang temanmu mendekat dan menepuk, “Selamat, ya. Hasil kerja keras!” Namun, kamu malah berpikir bahwa nilai A ini belum cukup bagus. Semua orang bisa mendapatkannya! (Inginnya selalu jadi -be the number and the only one…) menolak pengalaman dan hasil yang baik. Akhirnya, tidak ada perasaan bahagia karena kebahagiaan sudah ditolak dan keyakinan-keyakinan negatif tetap terpeliha. *

Kesimpulan yang Melompat
 Beginilah cara orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dan kesimpulannya negatif (karena tidak ada fakta yang mendukung kesimpulan itu).
Ada dua tipe, diantaranya yaitu :
1. Si 'Mind Reading' Contoh: Tanpa bertanya dulu, kamu mengambil kesimpulan temanmu yang 'mengernitkan dahi' itu tidak suka padamu.
 2. Si 'Fortune Telling' Contoh: Belum lagi kejadiannya terjadi, kamu sudah berpikiran pasti gagal. Belum lagi ujian dimulai, belum lagi berusaha, kamu sudah berpikir akan gagal ujian. *

 Berpikir Katastrofik (Membesar-besarkan)
Contoh: Jerawat nih… cuma satu, merah, kecil, di pipi. Tapi, reaksimu: Wahhh, ancur. Mana hari ini mau presentasi. Bagaimana kalau aku ditertawakan teman-teman, lalu aku jadi gagap. Bagaimana kalau dosen jadi berpikiran negatif soal aku dan aku dikasih nilai jelek? Orang ini terlalu berlebihan dalam berandai-andai… dan sayangnya, diseriusi. *

Bernalar Pakai Emosi
Bagaimana jika perasaanmu mendahului penalaran rasionalmu? Sering, perasaanmu sangat subjektif. Contoh: Sedang ujian TA, kamu nerveous. Jelas, nerveous. Tapi, seketika pas begitu lihat wajah dosen penguji kamu langsung salah tingkah, “Sepertinya aku akan dibantai. Wajah ibunya serius amat. Ibunya pasti nanya yang susah-susah. Aduh, gimana…” *

Berpikir “Seharusnya”
Harus, harus, dan harus tidak selamanya baik. Keharusan itu bahkan menjadi tirani jika ia malah membuatmu bertindak berdasarkan aturan yang tidak fleksibel. Keharusan ini membuat diri sangat anti pada kesalahan. Harus menang, tidak boleh kalah. Setiap hari saya tidur empat jam saja karena saya harus banyak belajar dan ibadah malam. Harus jadi orang soleh, tidak boleh berbuat dosa. Berpikir seharusnya menjauhkan kita dari kodrat kemanusiaan kita. Ada banyak hal yang sunnah di dunia ini, tidak wajib, ada banyak perkecualian dan kasus khusus. Jika tidak boleh ada perbuatan salah, buat apa ada ampunan Tuhan?

Memberi Melabel
 Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan mati-matian, tapi hasilnya masih kurang baik. Sebagai ketua, kamu sangat kecewa dan naik pitam, “Ini orang-orang tidak berguna! Bodoh semua!” Melabel adalah bentuk ekstrem dari berpikir all-or nothing. Melabel membuat kita menjelek-jelekkan orang/ diri sendiri dan mengabaikan sisi positif yang ada. Melabel seakan-akan menjadikan orang buruk karena dari asalnya dia memang buruk, berkarakter buruk. *

Personalisasi dan Menyalahkan
 Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan mati-matian, tapi hasilnya tetap jelek. Sebagai ketua, kamu langsung nangis, “Maaf, semua ini salahku. Sebagai ketua panitia aku tidak becus… Seandainya aku sungguh-sungguh, semua ini tak akan terjadi.” Personalisasi terjadi ketika kita menjadikan diri kita sebagai kambing hitam terjadinya masalah, yang sesungguhnya mengapa dan bagaimana ia terjadi benar-benar di luar kontrol kita. Personalisasi ini memunculkan perasaan bersalah, rasa malu, dan tidak berdaya. Kebalikan orang di atas adalah orang yang hobinya menyalahkan orang lain. Ia lupa bahwa ia juga berkontribusi dalam terjadinya masalah. ****

Sebetulnya masih ada beberapa macam pikiran negatif atau distorsi kognitif, namun sepertinya yang di atas cukup mewakili.

 well, - Ketika kita mengubah diri, maka semua yang kita dapatkan di luar diri kita akan berubah (Jim Rohn)
Jika kita tidak mau merumuskan tujuan hidup bagi diri kita, maka kita akan bekerja untuk merealisasikan tujuan hidup orang lain (Brian Tracy)
- Ketika kita menentukan keputusan hidup, maka saat itulah nasib kita sudah dicetak (Anthony Robbins).

Nia Putri Angelina /niangelina https://about.me/niangelina Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niangelina/menyesali-sebuah-keputusan-hingga-melahirkan-distorsi-kognitif_57069ef660afbd480b225b93

Tidak ada komentar:

Posting Komentar