Oleh: Nia Putri Angelina
Well, setiap orang pasti pernah
menyesali sebuah keputusan yang hasilnya mungkin tak seperti yang kita inginkan
meskipun sebelumnya telah kita pikirkan dalam-dalam.
"Cobalah untuk renungkan
sejenak, waktu yang terus berjalan dan tidak akan memberikan kita jalan tuk
kembali ke depan dengan kecepatannya tanpa penerimaan kita menyukainya atau
tidak. Kitapun telah terseret pula bersama dengannya. Bahkan seringkali kita
lalai bahwa derasnya waktu tentu menuntut kepalan keberanian menghadapinya."
Bahkan terkadang kita terjebak untuk berusaha
keras menghapus setiap jejak langkah yang telah ditorehkan dalam perjalanan
kehidupan ketimbang mencari cara bagaimana langkah untuk perbaikan diri dan
menata diri wujudkan tujuan yang ingin kita capai.
Seringkali justru bermula dari
sebuah penyesalan, malah melahirkan sebuah pemikiran baru yang tanpa sadar
telah kita blokir solusi atau memotivasi pada diri sendiri akan kepuasan atas
dasar keputusan yang telah kita ambil.
Pahamilah nilai sebuah tanggung jawab
diri kita, petik di saat kita menghormati sebuah keputusan. Jadi, tak ada
alasan kita untuk menyesali keputusan yang telah kita ambil, bukan! Keberanian
menghadapi hidup adalah kunci keberhasilan mengarungi betapa buasnya samudera
kehidupan untuk menggapai pulau kemenangan.
on the other hand,
pemikiran manusia sungguh ajaib.
Dengan ide-ide yang dimunculkannya, ia bisa mengubah manusia dari yang buruk
menjadi baik, dari yang baik menjadi buruk, yang buruk semakin buruk, yang baik
semakin baik. Hubungan antara pikiran dan perilaku ini banyak dijelaskan oleh
teori kognitif-behavioral. Teori ini sangat menarik perhatian dan menjadi salah
satu teori psikologi terfavorit bagi saya. Beberapa kali penerapan teori ini
menyelamatkan saya dari berbagai situasi dan peristiwa yang kurang
menyenangkan.
Kerendahan hati mengurangi kebutuhan kita untuk pembenaran
diri dan memungkinkan kita untuk mengakui dan belajar dari kesalahan kita. Hal
ini dapat membantu kita mengatasi banyak distorsi. -- Hal tersebut adalah salah satu point penting bagi Saya.
Melalui tulisan ini, Saya ingin mengajak
kompasianer menyadari bahwa seringkali yang jadi masalah dan sumber bagi
masalah adalah diri kita sendiri, berupa pikiran-pikiran kita sendiri. Dan ada
banyak hal pula yang sesungguhnya tidaklah buruk sebelum kita memulai
berpikiran buruk. Selain itu, banyak pula kejadian yang benar-benar sangat
berat namun ternyata dapat terasa cukup ringan sehingga mampu kita lewati
karena kita mampu berpikir positif.
Keajaiban berpikir positif banyak
didengung-dengungkan orang, lihat saja banyak buku psikologi populer yang
mengusung tema ini. Namun demikian, sebelum kita berpikir positif, kita perlu
tahu pikiran macam apa yang harus dipositifkan karena ia sesungguhnya bernilai
negatif. Kita perlu mengenal macam-macam pikiran negatif atau dalam bahasa
ilmiah psikologisnya,distorsi kognitif.
Pikiran positif tidak akan banyak berefek jika kita belum
memerangi asal muasal sebuah masalah berupa cara berpikir kita yang negatif.
Terdapat beberapa macam cara berpikir yang negatif (terima kasih Mr. Aaron Beck) *
Berpikir All-Or-Nothing
Beginilah orang dengan cara
pemikirannya yang notabene hitam-putih dan lalai kalau masih ada dunia abu-abu
yang menenangkan. Ia berpemikiran dan berharap secara ekstreme. Beginilah cara
berpikir yang kelewatan perfeksionis sehingga memandang kesalahan kecil sebagai
kegagalan total atau melihat suatu dan menyimpulkannya menjadi fatal secara
keseluruhan. Contoh: Seorang mahasiswa yang cita-citanya dapat IP 4. Begitu ada
satu nilainya yang B, ia langsung, “Wahh… aku bodoh!” dan sangat bersedih dan
terlarut sampai baper. Ia berpemikiran mahasiswa hebat itu nilainya harus A
semua. Inilah all-or-nothing-nya: “semua”. *
Berpikir Overgeneralization
Contoh: Ada mahasiswa yang mengirimkan naskah
atau artikelnya pada sebuah penerbit. Sudah berkali-kali dan sayangnya,
ditolak. Dia lalu berkata, “Aku tidak pernah bisa menulis bagus. Tulisanku
selalu ditolak. Sial terus…” Nah, kata “tidak pernah” dan“selalu” yang
membuatnya jadi kehilangan harapan. Dengan berpemikiran semacam ini bagaimana
bisa tidak berputus asa? Ia mengambil kesimpulan yang digeneralisasi secara
luas hanya berdasarkan satu insiden atau sepotong bukti saja. *
Penyaringan Mental
Contoh: Pernahkah teman-teman mengalami ini?
Banyak orang mengatakan kamu orang yang baik, pintar, dan yang baik-baik
lainnya. Namun, tiba-tiba ada satu saja yang mengatakan, “Ih, sombong.” Satu
komentar itu saja namun dapat membuat duniamu jadi gelap, harga dirimu jatuh.
Ke mana perginya yang baik-baik dan banyak itu? Yang di pikiranmu cuma satu
yang negatif itu. * Disqualifying the Positive Contoh: Hasil ujian diumumkan
dan kamu dapat nilai A. Entah mengapa kamu tidak puas. Seorang temanmu mendekat
dan menepuk, “Selamat, ya. Hasil kerja keras!” Namun, kamu malah berpikir bahwa
nilai A ini belum cukup bagus. Semua orang bisa mendapatkannya! (Inginnya
selalu jadi -be the number and the only one…) menolak pengalaman dan hasil yang
baik. Akhirnya, tidak ada perasaan bahagia karena kebahagiaan sudah ditolak dan
keyakinan-keyakinan negatif tetap terpeliha. *
Kesimpulan yang Melompat
Beginilah cara orang yang terlalu cepat
mengambil kesimpulan dan kesimpulannya negatif (karena tidak ada fakta yang
mendukung kesimpulan itu).
Ada dua tipe, diantaranya yaitu :
1. Si 'Mind Reading' Contoh: Tanpa
bertanya dulu, kamu mengambil kesimpulan temanmu yang 'mengernitkan dahi' itu
tidak suka padamu.
2. Si 'Fortune Telling' Contoh: Belum lagi
kejadiannya terjadi, kamu sudah berpikiran pasti gagal. Belum lagi ujian
dimulai, belum lagi berusaha, kamu sudah berpikir akan gagal ujian. *
Berpikir
Katastrofik (Membesar-besarkan)
Contoh: Jerawat nih… cuma satu,
merah, kecil, di pipi. Tapi, reaksimu: Wahhh, ancur. Mana hari ini mau
presentasi. Bagaimana kalau aku ditertawakan teman-teman, lalu aku jadi gagap.
Bagaimana kalau dosen jadi berpikiran negatif soal aku dan aku dikasih nilai
jelek? Orang ini terlalu berlebihan dalam berandai-andai… dan sayangnya,
diseriusi. *
Bernalar Pakai Emosi
Bagaimana jika perasaanmu mendahului
penalaran rasionalmu? Sering, perasaanmu sangat subjektif. Contoh: Sedang ujian
TA, kamu nerveous. Jelas, nerveous. Tapi, seketika pas begitu lihat wajah dosen
penguji kamu langsung salah tingkah, “Sepertinya aku akan dibantai. Wajah
ibunya serius amat. Ibunya pasti nanya yang susah-susah. Aduh, gimana…” *
Berpikir “Seharusnya”
Harus, harus, dan harus tidak
selamanya baik. Keharusan itu bahkan menjadi tirani jika ia malah membuatmu
bertindak berdasarkan aturan yang tidak fleksibel. Keharusan ini membuat diri
sangat anti pada kesalahan. Harus menang, tidak boleh kalah. Setiap hari saya
tidur empat jam saja karena saya harus banyak belajar dan ibadah malam. Harus
jadi orang soleh, tidak boleh berbuat dosa. Berpikir seharusnya menjauhkan kita
dari kodrat kemanusiaan kita. Ada banyak hal yang sunnah di dunia ini, tidak
wajib, ada banyak perkecualian dan kasus khusus. Jika tidak boleh ada perbuatan
salah, buat apa ada ampunan Tuhan?
Memberi Melabel
Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan
mati-matian, tapi hasilnya masih kurang baik. Sebagai ketua, kamu sangat kecewa
dan naik pitam, “Ini orang-orang tidak berguna! Bodoh semua!” Melabel adalah
bentuk ekstrem dari berpikir all-or nothing. Melabel membuat kita
menjelek-jelekkan orang/ diri sendiri dan mengabaikan sisi positif yang ada.
Melabel seakan-akan menjadikan orang buruk karena dari asalnya dia memang
buruk, berkarakter buruk. *
Personalisasi dan Menyalahkan
Contoh: Acara organisasi. Dipersiapkan
mati-matian, tapi hasilnya tetap jelek. Sebagai ketua, kamu langsung nangis,
“Maaf, semua ini salahku. Sebagai ketua panitia aku tidak becus… Seandainya aku
sungguh-sungguh, semua ini tak akan terjadi.” Personalisasi terjadi ketika kita
menjadikan diri kita sebagai kambing hitam terjadinya masalah, yang
sesungguhnya mengapa dan bagaimana ia terjadi benar-benar di luar kontrol kita.
Personalisasi ini memunculkan perasaan bersalah, rasa malu, dan tidak berdaya.
Kebalikan orang di atas adalah orang yang hobinya menyalahkan orang lain. Ia
lupa bahwa ia juga berkontribusi dalam terjadinya masalah. ****
Sebetulnya masih ada beberapa macam
pikiran negatif atau distorsi kognitif, namun sepertinya yang di atas cukup
mewakili.
well, - Ketika
kita mengubah diri, maka semua yang kita dapatkan di luar diri kita akan
berubah (Jim Rohn)
– Jika kita tidak mau merumuskan tujuan hidup bagi diri kita, maka kita
akan bekerja untuk merealisasikan tujuan hidup orang lain (Brian Tracy)
- Ketika kita menentukan keputusan hidup, maka saat itulah nasib kita
sudah dicetak (Anthony Robbins).
Nia Putri Angelina /niangelina
https://about.me/niangelina Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niangelina/menyesali-sebuah-keputusan-hingga-melahirkan-distorsi-kognitif_57069ef660afbd480b225b93
Tidak ada komentar:
Posting Komentar